piay88
Bagi Halimah, menjadi guru Pendidikan Pancasila di sekolah umum di bawah naungan Pesantren Al-Hayyu adalah sebuah pengabdian yang menguras energi. Menghadapi tingkah ajaib para remaja puber yang gemar memicu drama harian sudah cukup membuat kepalanya berdenyut nyeri setiap hari. Di tengah kepenatan itu, ia hanya menginginkan jeda dan ketenangan.
Namun, ketenangan Halimah perlahan terusik sejak takdir berulang kali mempertemukannya dengan Ustadz Rapi. Pria itu adalah seorang musyrif pesantren yang terkenal dingin, kaku, dan teramat irit bicara. Rapi adalah sosok penjaga ayat yang waktunya habis untuk mencetak generasi Qurani, menjauhkan diri dari segala hal yang mampu menggoyahkan fokusnya.
Pertemuan tak sengaja di ruang rapat yayasan hingga aksi sigap Rapi saat menolong motor mogok Halimah di parkiran dekat dapur, ternyata meninggalkan debar yang tak biasa di dada keduanya. Rapi yang sedingin es mulai terusik oleh senyum manis Halimah, sementara Halimah mulai terpesona oleh ketegasan dan akhlak santun sang ustadz.
Di bawah langit Malang yang dingin, dua hati ini memilih jalan yang sama: saling memikirkan dalam diam, saling menjaga pandangan, dan saling menerka dalam bisu. Di antara benteng pembatas asrama dan aturan pesantren yang ketat, mampukah debaran yang kian menguat ini menemukan muaranya? Ataukah rasa itu akan tetap menjadi rahasia yang hanya berani mereka langitkan dalam doa.