jolmabursik
Di usia 24 tahun, terjebak dalam status pengangguran dan rasa gagal, kepulanganku dari Semarang ke Siantar seharusnya menjadi tempat untuk berlindung. Namun, bagi seorang anak perempuan yang sedang hancur harga dirinya, rumah justru terasa seperti neraka.
Aku pulang dan dihadapkan pada realitas yang ingin kuhindari: abang tertua yang menjadi parasit, abang kedua yang sakit, adik yang tidak punya arah, dan himpitan beban finansial yang mencekik. Di tengah itu semua, ada Mamak-seorang janda tangguh yang mengorbankan segalanya untuk menanggung hidup kami sejak Bapak tiada di tahun 2015.
Namun, rasa malu karena menganggur dan tekanan melihat kondisi rumah membuat seluruh amarahku meledak. Aku menyalahkan keadaan, menyalahkan susahnya mencari kerja, dan yang paling parah: aku menyalahkan Mamak karena memaksaku pulang. Di puncak keegoisanku, aku meneriakkan kalimat paling kejam yang bisa diucapkan seorang anak, "Bagus aku jadi yatim piatu kalau Mamak nggak mau berjuang untukku!"
Aku tidak pernah menyadari bahwa semesta mungkin sedang mencatat kalimat itu.
Ini adalah kisah tentang penyesalan yang datang terlambat. Tentang keras kepalanya seorang anak yang mencoba melawan takdir, hingga akhirnya takdir berbalik merenggut satu-satunya tempat ia bersandar.