odedi50taun
"Karena terkadang, mata manusia terlalu pengecut untuk mengakui apa yang ditangkap oleh lensa."
- Endra Maheja 📷
SINOPSIS : DI ANTARA LENSA DAN LOGIKA
Tahun 1997, Kania percaya bahwa cinta adalah sebuah garis lurus. Namun bagi Endra Maheja-fotografer idealis yang lebih suka bicara lewat bidikan lensa daripada kata-kata-cinta adalah tentang jarak, komposisi, dan kapan harus menekan tombol rana.
Lalu di tahun 1999, sebuah perpisahan tanpa penjelasan terjadi di selasar wisuda. Ejha menghilang, meninggalkan Kania dengan segudang tanya dan sebuah tiket kereta api yang tak pernah terpakai.
Lima tahun kemudian, Kania kembali ke Bandung sebagai wanita karier yang dingin dan profesional. Ia mengira telah berhasil menghapus seluruh memori tentang "anak Mapala" itu dari logikanya. Sampai sebuah proyek membawanya kembali ke sebuah studio tua di Cipaganti, dan ia menemukan kenyataan yang mengerikan:
Bahwa selama tujuh tahun ia menghilang, Ejha tidak pernah benar-benar pergi. Pria itu ada di sana, di balik lensa, memotret setiap langkah kehancuran dan kebangkitan Kania dari kejauhan. Menumpuk ribuan fragmen rahasia dalam sebuah "Ruang Gelap" digital yang siap meledakkan kewarasan Kania.
Di antara aroma pinus tahun 90-an dan dinginnya beton Jakarta tahun 2004, Kania harus memilih: Tetap menjadi objek yang diamati dari jauh, atau menghancurkan lensa itu dan menghadapi logika cinta yang selama ini disembunyikan darinya?
________________________________________
Nostalgia Bandung 90s | Unspoken Frames | Professional Conflict | Slow-burn | Second Chance.
CATATAN :
"Sebuah sekuel dari novel [Di Antara Lensa dan Logika], namun dapat dinikmati sebagai cerita yang berdiri sendiri."