118kho
Nara, 28 tahun, adalah anak pertama dari lima bersaudara yang tumbuh terlalu cepat dipaksa dewasa oleh keadaan, dan dibentuk oleh kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi. Di rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, ia hanya menemukan satu hal yang pasti: dirinya harus selalu kuat.
Dengan ayah yang hadir tanpa peran, dan ibu yang menjadi pusat segalanya, Nara menghabiskan hidupnya untuk mengalah. Ia membesarkan adik-adiknya, menopang keluarganya, dan mengubur semua keinginannya sendiri termasuk tentang dicintai dan memiliki kehidupan yang ia pilih sendiri.
Namun, luka yang paling dalam bukan hanya tentang lelah menjadi sandaran.
Melainkan tentang ketidakpercayaannya pada cinta.
Bagi Nara, pernikahan bukanlah harapan melainkan ketakutan. Ia tak pernah melihat contoh yang meyakinkan bahwa mencintai seseorang bisa berakhir baik. Setiap kali ia mencoba membuka hati, langkahnya selalu terhenti oleh ragu. Oleh ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Oleh suara dalam dirinya yang terus berkata: "Bagaimana kalau semuanya hanya akan menyakitkan?"
Hingga pada satu titik, Nara berhenti mencoba.
Ia tidak lagi berharap.
Tidak lagi merencanakan masa depan.
Tidak lagi percaya bahwa hidupnya akan berubah.
Ia hanya menjalani hari seperti biasa menjadi yang paling kuat untuk semua orang, kecuali untuk dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, hidup memaksanya memilih:
Tetap bertahan dalam ketakutan yang selama ini melindunginya...
atau perlahan belajar percaya, bahwa mungkin meski kecil ia juga berhak atas masa depan.