americano_nerd
"Nggak semua bab masa lalu harus selesai dengan kata maaf. Kadang, kita cuma perlu menutup halamannya dan melangkah ke bab berikutnya."
Hidup Rafa di semester tiga tidak pernah punya warna. Polanya selalu sama dan membosankan: kuliah, menumpang di kosan teman, lalu pulang. Satu-satunya alasan yang membuatnya tetap melangkah adalah cangkir-cangkir kopi di pelbagai sudut kota dan alunan musik di dalam headphone-nya.
Bagi Rafa-seorang mahasiswa hemat energi yang kenyang pahitnya dihempaskan ke friendzone-asmara adalah jebakan ekspektasi yang selalu ingin ia hindari.
Sampai akhirnya, langkah kakinya terhenti di sebuah kedai kopi dekat rumah. Di balik waitress station berwarna merah menyala, berdiri Zakia. Anggun, tenang, dan tampak hidup di galaksi yang sama sekali berbeda dengannya. Perempuan yang Rafa pikir mustahil untuk digapai, ternyata justru menjadi orang pertama yang memecah jarak melalui perantara Anisa, teman waiter-nya.
Di antara aroma espresso yang menyengat, alunan lagu Radiohead, perdebatan anime di dini hari, serta dorongan dari sahabat-sahabat mereka-Joe, Melinda, dan Mesya-Rafa dan Zakia perlahan saling menemukan frekuensi yang sama.