DewantyAsmaningrum
Hari kedua puluh tiga ramadhan 1439 H, beberapa jam sebelum pulang kampung, aku putuskan menulis keterdiamanku selama ini. Ada yang menyesakkan dada, sakit sekali hingga air mataku menggenang menutupi penglihatan. Luka yang entah sejak kapan bersemayam didalam diriku. Luka yang kubiarkan menganga dengan harapan akan sembuh dengan sendirinya, tapi nyatanya dia tidak pernah tersembuhkan. Luka yang ingin ku tinggal lari, lari sejauh-jauhnya, tapi nyatanya dia adalah rumah tempat ku harus kembali. Dan sejauh-jauhnya aku menghilang, dia tidak bisa aku lenyapkan.
Aku tidak baik-baik saja, belum pernah baik-baik saja, dan entah apakah akan baik-baik saja.
Masalahnya adalah ...