RawrRrdd
Andrasch Caelum Zelfark tumbuh di rumah yang tidak mengenal ampun.
Daddy tidak pernah bertanya dua kali.
Jika Andrasch lambat menjawab, tangannya datang lebih dulu. Jika ia berdiri di tempat yang salah, tubuhnya didorong tanpa penjelasan. Di rumah itu, suara laki-laki lebih dihargai daripada alasan.
Tiga abang laki-lakinya belajar cepat.
Pukulan ringan di bahu. Dorongan di lorong. Tertawa ketika Andrasch tersandung. Semua disebut cara mendidik. Semua dianggap wajar.
"Kamu ini harus nurut," kata daddy suatu malam, dingin.
"Di keluarga ini, yang keras yang bertahan."
Andrasch nurut.
Ia menunduk. Mengangguk. Membersihkan darah di sudut bibir tanpa suara. Ia tidak bodoh-ia hanya tahu bahwa melawan hanya akan memperpanjang rasa sakit.
Mereka menyebutnya tolol karena diam.
Padahal ia mencatat segalanya.
Ia tahu pukulan mana yang datang dari marah, mana yang datang dari kebiasaan. Ia tahu nada suara sebelum tangan terangkat. Ia tahu kapan harus gemetar agar semuanya cepat selesai.
Malam itu, sesuatu di dalam dirinya retak.
Bukan tubuhnya.
Bukan ingatannya.
Melainkan bagian yang biasa berkata tidak.
Yang tertinggal hanyalah rasa takut, kebiasaan patuh, dan pikiran yang masih bekerja-seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya, tetapi lampunya tetap menyala.
Dan di ruang kosong itu, sesuatu lain masuk.
Ia tidak menghapus ketakutan Andrasch.
Ia menggunakannya.
Tidak membuang kepatuhan.
Ia memakainya sebagai penyamaran.
Ketika Andrasch membuka mata, ia masih tahu bagaimana rasanya ditampar. Masih tahu bagaimana rasanya menunggu pukulan. Namun rasa itu tidak lagi menghentikannya.
Ia kembali ke rumah dengan wajah yang sama.
Polos. Jinak. Tidak berbahaya.
Daddy menepuk kepalanya keras.
"Bagus. Anak baik."
Dan untuk pertama kalinya, di balik kepatuhan itu,
sesuatu di dalam tubuh Andrasch memahami satu hal dengan sangat jelas:
keluarga ini tidak boleh kehilangan siapa pun.
Bukan karena cinta-
melainkan karena keluarga yang utuh jauh lebih mudah dikendalikan.