Nala_Wijaya
Terinspirasi dari fakta historis Pamalayu dan Cerita Rakyat, TAHTA DAN SAMUDRA adalah Buku Pertama dari Tetralogi PAMALAYU, berkisah tentang sebuah dunia yang sedang berubah, ketika sungai-sungai besar di tanah Melayu dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa mulai dihubungkan oleh ambisi, persahabatan, dan takdir yang belum sepenuhnya dipahami oleh para pelakunya. Di Dharmasraya, kerajaan pewaris kejayaan lama di tepian Batanghari, Dara Jingga dan Dara Petak tumbuh di antara warisan Melayu Hulu dari lereng Marapi dan gemuruh perdagangan yang membawa kabar dari negeri-negeri jauh. Sementara itu di Singasari, Maharaja Kertanegara menatap ke seberang laut, menyadari bahwa masa depan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang menguasai daratan, melainkan oleh siapa yang mampu menyatukan samudra. Ketika sebuah ekspedisi besar bernama Pamalayu mulai dipersiapkan, tak seorang pun menyadari bahwa peristiwa yang kelak dicatat sebagai diplomasi, penaklukan, atau persaudaraan-tergantung siapa yang menceritakannya-akan mengubah nasib Jawa dan Melayu untuk selamanya. Di antara tahta, sungai, dan samudra, tersimpan pertanyaan yang masih diperdebatkan berabad-abad kemudian: apakah Pamalayu adalah upaya menundukkan Melayu, atau justru awal lahirnya sebuah cita-cita besar yang menyatukan negeri-negeri di bawah langit yang sama?