VieRachma0
"When the sun and moon meet, even the coldest structure finds its warmth."
- Sun & Moon (NCT 127)
"Hidupku adalah garis lurus yang presisi. Lalu kamu datang dan menumpahkan warna di atas cetak birunya."
Arka Satria adalah penganut paham struktur. Baginya, dunia ini dibangun di atas beton abu-abu, perhitungan beban yang matang, dan logika tanpa cela. Sebagai mahasiswa arsitektur jenius yang tertutup, ia tidak butuh variabel tidak terduga dalam hidupnya.
Lalu hadirlah Ghia Aurora. Mahasiswi seni yang hidup di antara percikan cat air dan teori warna yang abstrak. Bagi Ghia, garis Arka terlalu kaku, dan dunianya terlalu pucat.
Pertemuan mereka di kompetisi desain nasional adalah sebuah bencana. Arka yang sombong mematahkan argumennya, namun sebuah hukuman dosen justru memaksa mereka bekerja dalam satu studio yang sama. Di antara aroma kopi pahit, dinginnya dinding beton, dan ambisi yang membumbung tinggi, Arka mulai menyadari sesuatu.
Ghia bukan sekadar gangguan. Dia adalah "cahaya" yang masuk melalui retakan dunianya yang gelap.
Namun, saat pameran terbesar mereka sudah di depan mata, sebuah sabotase memaksa mereka memilih: mengorbankan idealisme masing-masing, atau membiarkan "matahari" mereka padam sebelum sempat bersinar.
Ini adalah tentang pertemuan antara logika dan intuisi. Tentang rasa pahit yang perlahan berubah manis. Tentang Arka yang akhirnya menemukan bahwa warna paling indah justru muncul di saat paling kacau.
"Aku nggak butuh dunia menyukaiku, asal kamu ada di palet warnaku."