MzNa2G
Prolog
Gunung Tua, Raja Kelam
"Sira kang dadi geni, aja nganti nguntap jagad."
Pada masa purba, ketika daratan Nusantara belum terpecah menjadi ribuan pulau, bumi ini hanyalah satu hamparan agung yang disebut Tanah Utama, lahan yang bernafas, berdenyut, dan berbisik dalam bahasa para dewa unsur.
Di tengah bentangan itu berdirilah Gunung Krakatau, raksasa hitam yang puncaknya menembus awan dan akar-akarnya menjalar hingga dasar samudra. Orang-orang purba menyebutnya "Napas Dunia" poros dari segala kehidupan dan kematian, tempat berkumpulnya empat kekuatan agung: tanah, udara, air, dan api.
Namun di atas kemegahan itu, berdirilah Istana Malam, singgasana batu obsidian tempat bersemayamnya penguasa kegelapan: Raksagni, sang penyihir hitam.
Di balik jubah legamnya yang berkilau seperti arang membara, matanya menyala seperti bara neraka yang tak pernah padam. Ia menundukkan semua penyihir, membakar hutan yang berani berdoa pada roh, dan memenjarakan jiwa-jiwa yang mencoba menyembuhkan bumi tanpa izinnya.
Ia menetapkan hukum tunggal:
"Tiada sihir selain milikku. Tiada kuasa selain apiku."
Satu mantra saja yang terucap tanpa restu, tubuh pelakunya akan digantung di gerbang Krakatau menjadi arang yang berteriak di antara kabut belerang. Rakyat hidup dalam ketakutan; sawah mengering, hutan menangis, laut tak lagi memberi ikan. Bayi-bayi diburu, para tetua dibungkam.
Semua itu karena ramalan nubuat kuno yang disembunyikan di reruntuhan kuil bawah Krakatau, yang suatu malam bergaung di antara gema lava:
"Akan lahir empat penjaga dari darah suku tertua, yang membawa tanah, udara, air, dan api.
Saat mereka bersatu, singgasana malam akan terbakar."
Sejak malam itu, Raksagni tak lagi tidur dengan tenang. Ia mengirim roh-roh pemburu, mengerahkan pasukan dari batu dan api, menghancurkan setiap kampung yang berani menyebut nama empat unsur.