Nusantara Stories

Refine by tag:
nusantara
WpAddindonesia
WpAdddi
WpAddkopi
WpAddberikat
WpAddbatik
WpAddresmi
WpAddkawasan
WpAddsiemens
WpAddpelangsing
WpAddjual
WpAdduntuk
WpAddtubuh
WpAddstempel
WpAddharga
WpAddhijau
WpAddpt
WpAddorganik
WpAdddistributor
WpAddjakarta
nusantara
WpAddindonesia
WpAdddi
WpAddkopi
WpAddberikat
WpAddbatik
WpAddresmi
WpAddkawasan
WpAddsiemens
WpAddpelangsing
WpAddjual
WpAdduntuk
WpAddtubuh
WpAddstempel
WpAddharga
WpAddhijau
WpAddpt
WpAddorganik
WpAdddistributor
WpAddjakarta

199 Stories

  • Sakti Nagara dan Pusaka Nusantara by mahessa
    mahessa
    • WpView
      Reads 34
    • WpPart
      Parts 5
    Kali ini Sakti Nagara semakin terlibat dalam arus peperangan masa lalu yang menjelma di masa sekarang. Bukan hanya itu, kepolisian sudah mulai memburunya sebagai satu-satunya orang yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi di Pancala. Kali ini Sakti dan teman-temannya harus mencegah bahaya yang datang dari barat Nusantara. Pulau Sumatera.
  • Sentana Nuswantara: Serial 4 - Gia : Peta yang Bernyanyi by rezkifajriansyah
    rezkifajriansyah
    • WpView
      Reads 13
    • WpPart
      Parts 9
    Darah yang Tidak Pernah Lupa Gia dilahirkan di atas perahu, di tengah ombak Laut Banda, saat fajar menyingsing dari timur Papua. Ibunya, Mariance Rumagesan, seorang perempuan Tidore yang tidak pernah takut pada badai, melahirkannya sambil memegang sebuah peta tua yang terbuat dari kulit kayu. Peta itu bukan peta biasa. Ia tidak menunjukkan pulau atau selat. Ia menunjukkan garis-garis cahaya yang menghubungkan leluhur. Darah Gia adalah percampuran dua kerajaan besar Timur Nusantara: Fatagar dari ayahnya, Tidore dari ibunya. Dari ayah, ia mewarisi kemampuan membaca medan - setiap bukit, setiap sungai, setiap pohon beringin berbicara kepadanya dalam bahasa yang tidak didengar orang lain. Dari ibu, ia mewarisi peta itu - dan kutukan yang menyertainya. Ibunya meninggal ketika Gia berumur sepuluh tahun. Secara resmi, karena sakit. Tapi Gia tidak pernah percaya. Ia ingat malam sebelum ibu pergi, ada sosok hitam berdiri di balik jendela. Ia ingat ibunya berbisik, "Jaga peta ini, Nak. Jaga sampai waktunya tiba. Peta ini akan memanggilmu kembali ke Timur." Empat belas tahun kemudian, Gia berdiri di hutan Kalimantan bersama tiga sentana lain. Bukan karena peta itu memanggilnya ke Timur. Tapi karena peta itu menunjukkan titik hijau berkedip di pedalaman - seorang sentana dengan kemampuan angin yang belum sadar akan Warisan Darahnya. Namun di sela-sela misi, peta itu terus berdenyut ke arah lain. Ke arah Timur. Ke arah Papua. Ke arah rumah yang tidak pernah ia kunjungi sejak ibunya meninggal. Ada sesuatu yang ibu tinggalkan. Dan Wangsa Raksasa, rupanya, juga mencarinya. Serial ini adalah tentang Gia. Tentang peta yang bernyanyi. Tentang pulang ke akar, sebelum angin topan menghancurkan semua yang ia cintai.
  • Sentana Nuswantara: Serial 7 - Oka : Arus di Selat Malaka by rezkifajriansyah
    rezkifajriansyah
    • WpView
      Reads 9
    • WpPart
      Parts 9
    Air tidak pernah lupa. Oka Mahendra tahu itu sejak kecil. Saat anak-anak lain bermain di darat, ia melompat ke sungai Musi, menyelam hingga dasar yang gelap, dan merasakan getaran-getaran aneh di telapak tangannya. Bukan arus. Bukan ikan. Tapi ingatan. Sungai itu mengingat kapal-kapal besar yang dulu berlabuh, para pedagang yang berteriak dalam bahasa asing, dan di suatu lapisan yang lebih dalam, dendam yang tidak pernah sirna. Ia tidak tahu bahwa ia mewarisi Laut Mengingat - kemampuan untuk membaca ingatan yang tersimpan dalam air, warisan dari Kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai Selat Malaka. Kini, bertahun-tahun kemudian, Oka berdiri di tepi pantai timur Sumatra, ditemani Gia, Tandilalang, Tari, dan Anike. Di hadapan mereka, laut tidak bergerak. Tidak ada ombak. Tidak ada angin. Seolah-olah laut sedang menahan napas. "Ini bukan alamiah," kata Gia, peta kulit kayu terbuka di tangannya. "Titik putus di Selat Malaka tidak hanya merusak pagar. Ia membiarkan sesuatu masuk. Atau... bangun." Dari kejauhan, kabut hitam mulai merayap di atas permukaan air. Dan di dalam kabut itu, siluet-siluet besar. Kapal. Puluhan kapal tanpa bendera, tanpa lampu, tanpa awak yang terlihat. Kapal hantu. Oka merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Karena air di sekitarnya berbisik. Bukan dalam kata-kata, tapi dalam getaran yang menusuk tulang. "Pulang. Pulang ke Palembang. Sebelum arus menyeretmu ke dasar." Ia mengepal tangan. Di telapaknya, simbol Warisan Darah bersinar biru - lebih terang dari biasanya. "Oka," Gia memanggil. "Apa yang air katakan?" Oka menelan ludah. "Ia bilang... kita tidak sendirian. Di dasar laut ini, ada yang tertidur. Dan kita baru saja membangunkannya." Dari dalam kabut, suara gemuruh rendah terdengar. Bukan guntur. Bukan ombak. Tapi sesuatu yang bernapas. Dalam. Panjang. Seperti raksasa yang membuka mata setelah tidur seribu tahun. Selat Malaka belum pernah benar-benar aman. Dan Oka tidak akan pernah bisa pulang sebelum ia mengingat siapa dirinya sebenar
  • Sentana Nuswantara: Serial 3 - Ketut : Tarian Penghancur by rezkifajriansyah
    rezkifajriansyah
    • WpView
      Reads 17
    • WpPart
      Parts 8
    Dia tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Tapi takdir tidak pernah meminta izin. Ketut Ariawan, penari dari Ubud, hidup dalam dua dunia. Satu dunia: tari dan upacara, senyum Luh Ayu di sanggar, dan suara gamelan yang mengalun lembut. Dunia lain: Warisan Darah, panggilan leluhur, dan bayang-bayang Wangsa Raksasa yang mengintai dari kegelapan. Sebagai sentana keturunan Kerajaan Warmadewa, ia mewarisi Tari Hujan - kemampuan untuk memicu fenomena alam hanya dengan gerakan. Tapi kemampuan itu tidak pernah ia kuasai sepenuhnya. Setiap kali ia menari, hujan yang ia panggil bisa menjadi badai. Gempa yang ia picu bisa meruntuhkan desa. Kini, purnama terkuat tahun ini akan segera tiba. Para pemangku di Pura Besakih bersiap menyambut Presiden Nuswantara. Dan Wangsa Raksasa, yang tidak pernah tidur, melihat momen ini sebagai kesempatan sempurna: serangan gaib yang akan menewaskan pemimpin bangsa dan meruntuhkan Pagar Nusantara. Satu-satunya harapan adalah Ketut. Ia harus menari di pusat pura, memperkuat perisai kuno yang diwariskan leluhurnya - kakek buyut I Gusti Ngurah Tari, yang gugur di tempat yang sama ribuan tahun lalu. Tapi hati Ketut tertambat pada Luh Ayu, penari biasa yang tidak tahu bahwa dunia yang ia kenal akan hancur jika Ketut gagal. Ia berjanji akan kembali. Tapi di atas panggung suci itu, tarian tidak pernah menjanjikan keselamatan. Serial 3: Ketut - Tarian Penghancur adalah kisah tentang seorang penari yang belajar bahwa terkadang, melindungi orang yang dicintai berarti rela berpisah. Sementara di lereng Gunung Agung, bulan semakin membesar. Dan kegelapan mulai merangkak.
  • Self Talk Success and Positive Affirmations (Daily Gratitude + Prayers by Soul) by IqbalMusalimCompanyI
    IqbalMusalimCompanyI
    • WpView
      Reads 9
    • WpPart
      Parts 32
    Self Talk Success is a positive statement that repeat day by day, month by month and year by year to develop you're inner strength be more healthy, happy, wise and better. Self Talk Success will make you positive outcome in a daily basis that make us more positive thinking, positive feeling and positive motivational which is will guide us to have positive mindset and the positive life attitude in long-term success relationship in real life. Iqbal Musalim Diplomat Success Soul Of Mind Indonesia Indonesia Jenius 2030 Networkingnya Para Pembaharu Nusantara Sekolah Pemikiran Untuk Para CEO, Millionaire, Billionaire and Trillionaire In Indonesia Kartu Nama Bisnis: Instabio.cc/SoulOfMindIndonesia Support us in Gank Now | Karya Karsa | KBM | Trakteer | Sociabuzz X Soul Of Mind Indonesi... drive.google.com Soul... nesia Q 31 SELFTALK SUCCESS BAHASA INDONESIA BY SOUL OF MIND INDONESIA SOUL OF MIND INDONESIA VIST INDONESIA JENIUS 2030 NUSANTARA MAJU 2043 NETWORKINGNYA PARA PEMBAHARU PERSOMAL PRIVATE . 999045- Rp4 999 045- PRIORITY 14 991 045- TERBAIK-TREND SETTER-BERBEDA - TERDEPAN Pendidikan Pengembangan Diri, Fundamental Strategi Bisnis & Manajemen Portofolio Investasi Layanan Jasa Kami: Survey Bakat Indonesia | Sekolah Bakat Indonesia | Akademi Pemikiran Akademi Pengusaha Sosial | Home Schooling Bakat Indonesia | Ahli Meretas Pertumbuhan 31 SELFTALK SUCCESS AND POSITIVE AFFIRMATION FIRST DAY (01) Terima Kasih Tuhan, atas keberuntungan hidup yang kami terima hari ini. Kami yakin dan percaya, semua keberuntungan yang kami terima hari ini adalah cara engkau untuk menyempurnakan rasa syukur kami. Kami adalah pribadi yang selalu beruntung karena secara alami kami memang orang yang beruntung! Terima Kasih Tuhan untuk hidup yang Luar Biasa Hebat, Indah dan Menakjubkan. SECOND DAY (02) Terima Kasih Tuhan, atas keberlimpahan hidup yang kami terima hari ini. Kami yakin dan percaya, segala keberlimpahan hidup yang kami terima hari ini adalah cara engkau
  • Guts & Blackpowder: The Struggle for Java by Maliq82
    Maliq82
    • WpView
      Reads 159
    • WpPart
      Parts 4
    The year was 1812. A cargo ship from The Ottoman Empire sailed through the Straits of Malacca and into the Sunda strait, bound for the British-controlled port of Merak. Sick sailors thought it was nothing more than ordinary sea illness. They were wrong. They carried The Blight, an unknown disease with a terrifyingly high mortality rate. And at a busy port, with trade and travelers everywhere, it was the perfect breeding ground for a catastrophe that would soon consume the island of Java and potentially the whole of Nusantara. [I DO NOT OWN THE IMAGE OF THE COVER AND THIS STORY IS COMPLETELY FANMADE AND IS NOT CANON.]
  • DARUZ - PUTERA LAUT by Rizone91
    Rizone91
    • WpView
      Reads 23
    • WpPart
      Parts 12
    Di kedalaman lautan Nusantara, jauh di bawah bayangan kapal-kapal moden yang melintasi permukaan, wujud sebuah kerajaan kuno bernama Samudera Inderalaksana. Kerajaan ini diperintah oleh Sultan Mahrun, raja agung bangsa laut yang berdarah keturunan naga purba. Mereka adalah penjaga rahsia lautan sejak beribu tahun lamanya, melindungi harta karun, arus deras, dan kehidupan maritim dari tangan manusia tamak. Di istana permata biru di dasar laut, seorang putera dilahirkan. Namanya Daruz, anak kepada Sultan Mahrun dan Permaisuri Nilam Putih. Dari kecil, Daruz menunjukkan tanda-tanda luar biasa - kulitnya berkilauan seperti sisik ikan pari, matanya bersinar biru keperakan saat dia marah, dan dia memiliki kekuatan untuk mengawal arus laut. Namun, bersama kuasa itu datang tanggungjawab besar: melindungi lautan daripada ancaman manusia, makhluk laut gelap, dan sumpahan purba yang tidur di kedalaman jurang Mariana.
  • The Guardians of Nusantara by MzNa2G
    MzNa2G
    • WpView
      Reads 1
    • WpPart
      Parts 2
    Prolog Gunung Tua, Raja Kelam "Sira kang dadi geni, aja nganti nguntap jagad." Pada masa purba, ketika daratan Nusantara belum terpecah menjadi ribuan pulau, bumi ini hanyalah satu hamparan agung yang disebut Tanah Utama, lahan yang bernafas, berdenyut, dan berbisik dalam bahasa para dewa unsur. Di tengah bentangan itu berdirilah Gunung Krakatau, raksasa hitam yang puncaknya menembus awan dan akar-akarnya menjalar hingga dasar samudra. Orang-orang purba menyebutnya "Napas Dunia" poros dari segala kehidupan dan kematian, tempat berkumpulnya empat kekuatan agung: tanah, udara, air, dan api. Namun di atas kemegahan itu, berdirilah Istana Malam, singgasana batu obsidian tempat bersemayamnya penguasa kegelapan: Raksagni, sang penyihir hitam. Di balik jubah legamnya yang berkilau seperti arang membara, matanya menyala seperti bara neraka yang tak pernah padam. Ia menundukkan semua penyihir, membakar hutan yang berani berdoa pada roh, dan memenjarakan jiwa-jiwa yang mencoba menyembuhkan bumi tanpa izinnya. Ia menetapkan hukum tunggal: "Tiada sihir selain milikku. Tiada kuasa selain apiku." Satu mantra saja yang terucap tanpa restu, tubuh pelakunya akan digantung di gerbang Krakatau menjadi arang yang berteriak di antara kabut belerang. Rakyat hidup dalam ketakutan; sawah mengering, hutan menangis, laut tak lagi memberi ikan. Bayi-bayi diburu, para tetua dibungkam. Semua itu karena ramalan nubuat kuno yang disembunyikan di reruntuhan kuil bawah Krakatau, yang suatu malam bergaung di antara gema lava: "Akan lahir empat penjaga dari darah suku tertua, yang membawa tanah, udara, air, dan api. Saat mereka bersatu, singgasana malam akan terbakar." Sejak malam itu, Raksagni tak lagi tidur dengan tenang. Ia mengirim roh-roh pemburu, mengerahkan pasukan dari batu dan api, menghancurkan setiap kampung yang berani menyebut nama empat unsur.