amarasa22
Suasana di halaman istana yang sedianya hangat dengan sambutan untuk kepulangan sang pangeran, tiba-tiba membeku. Azriel berdiri dengan anggun di tangga istana, pita ulang tahun masih melingkar di pergelangan tangannya. Matanya yang teduh kini berubah dingin, menusuk Calian dan wanita hamil yang digendongnya.
Calian tersentak. Ia tak menyangka Azriel akan merespons dengan ketajaman seperti itu. Biasanya, Azriel selalu tenang dan penuh pertimbangan, bahkan saat menghadapi tekanan politik sekalipun.
"Azriel, dengarkan dulu," Calian menurunkan wanita itu dengan hati-hati, lalu melangkah maju. "Dia bernama Laras. Suaminya tewas dalam pertempuran di wilayah selatan. Dia sendirian, hamil, dan nyaris tewas saat menyelamatkan anak buahku. Aku hanya-"
"Hanya ingin bersikap baik?" potong Azriel dengan nada dingin. "Kau tahu sendiri adat kerajaan kita. Seorang selir tidak bisa sembarangan diangkat, apalagi tanpa persetujuan raja dan permaisuri. Dan satu hal lagi, Calian," Azriel menatap langsung ke mata suaminya. "Aku tidak pernah melarangmu bersikap baik. Tapi kau membawanya pulang di hari ulang tahunku, di depan seluruh rakyat, dan langsung memintaku menerimanya sebagai selir? Itu bukan permintaan, itu penghinaan."
Para dayang dan prajurit yang hadir menunduk, tak berani bersuara. Laras tampak cemas, menggenggam erat lengan bajunya sendiri.
Calian menghela napas. Ia sadar telah bertindak ceroboh. Selama tiga tahun di medan perang, ia terbiasa memberi perintah dan dipatuhi, tanpa banyak pertimbangan diplomatis.
"Aku minta maaf," kata Calian akhirnya. "Bukan maksudku mempermalukanmu. Tapi janjiku padanya, dia akan punya tempat tinggal yang aman. Kalau kau tak setuju dia menjadi selir, biarkan dia tinggal di istana sebagai tamu, sampai anaknya lahir. Setelah itu, terserah dia mau pergi atau tinggal menjadi pelayan istana."
Azriel terdiam beberapa saat. Ia mengamati Calian, mencari kebohongan di balik matanya. Tapi ia hanya melihat kelelahan penjelajah...