ardilarn11
Pertemuan itu terjadi tanpa rencana di suatu pagi yang tenang, saat kabut tipis masih menyelimuti Jalan Braga. Berawal dari sebuah pertanyaan sederhana tentang restoran Cina, takdir perlahan menautkan langkah Delphine dan Briel. Obrolan kecil di trotoar kolonial pagi itu dengan cepat bermutasi menjadi rentetan pesan di larut malam, panggilan telepon panjang sebelum tidur, hingga rasa nyaman yang perlahan tumbuh menjadi rumah paling hangat bagi keduanya.
Selama dua tahun penuh warna, mereka merajut dunia mereka sendiri. Melewati pasang surut bersama berbagi tawa lepas, menyeka tangis, meredam pertengkaran kecil, hingga memupuk mimpi yang sama tentang hari tua. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan yang dulunya menjadi tempat perlindungan itu mulai terasa menyesakkan. Jarak yang tak kasat mata perlahan membentang, disusul oleh rasa lelah yang mengikis sisa-sisa kebersamaan mereka.
Sampai akhirnya, titik jenuh itu memaksa mereka memilih untuk berpisah. Sebuah perpisahan yang ironis, bukan karena kompas cinta mereka telah mati, melainkan karena sadar bahwa memeluk satu sama lain terlalu erat justru terasa lebih menyakitkan daripada merelakannya pergi. Dan dari semua serpihan memori yang pernah mereka ukir bersama, Braga akan selalu tetap sama menjadi saksi bisu tempat segalanya dimulai, sekaligus sudut sunyi di mana bayang-bayang mereka diam-diam dikenang hingga akhir.
best regards,
dila