fyra_aull
Kota Jogja dan Kita
Di kota Jogja, waktu tidak pernah benar-benar berlari. Ia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi setiap kenangan untuk tumbuh diam-diam di antara jalanan basah, lampu temaram, dan angin malam yang membawa sisa percakapan yang tak sempat selesai.
"Kota Jogja dan Kita" adalah kisah empat jiwa yang tidak pernah benar-benar meminta untuk dipertemukan, namun semesta tetap menautkan langkah mereka di persimpangan yang sama, pada waktu yang tidak pernah sepenuhnya kebetulan.
Zeno Kael adalah sunyi yang memilih diam sebagai cara bertahan. Dalam dirinya, dingin bukan sekadar sifat, melainkan dinding yang ia bangun agar tidak terlalu mudah runtuh oleh dunia.
Meyla Reyfana hadir seperti hujan yang jatuh tanpa suara, namun meninggalkan jejak yang dalam di tanah yang kering. Ia tidak selalu dimengerti, bahkan oleh dirinya sendiri, tetapi dalam dirinya tersimpan langit malam yang tidak sepenuhnya gelap.
Al-Vidan Draven adalah api yang menertawakan sepinya sendiri. Ia hidup dalam tawa yang keras, namun di baliknya ada kelelahan yang tidak pernah ia ucapkan.
Ravielle Marceline adalah pagi yang tidak pernah menuntut untuk dimiliki, hanya untuk dirasakan sebentar sebelum dunia kembali berjalan.
Di Jogja, mereka bertemu dalam cara yang sederhana-di sela waktu, di antara jarak, di dalam diam yang tidak pernah benar-benar kosong. Tidak semua pertemuan menjadi abadi, tetapi semuanya meninggalkan jejak.
"Kota Jogja dan Kita" adalah tentang bagaimana manusia belajar memahami bahwa tidak semua yang hadir harus dimiliki, dan tidak semua yang pergi benar-benar hilang.