Refleksidiri cerita

Saring berdasarkan tag:
refleksidiri
refleksidiri

5 Cerita

  • Otak Aku Tidak Pernah Diam oleh Cikyam0603
    Cikyam0603
    • WpView
      Membaca 3
    • WpPart
      Bab 1
    Hampir melangkah ke usia 40 tahun, aku mula mempersoalkan pelbagai perkara tentang diri sendiri. Mengapa perkara mudah seperti mengemas rumah dan memasak terasa begitu melelahkan? Mengapa arahan bertimbal balik membuatkan fikiran aku tiba-tiba 'shut down'? Namun di sebalik keriuhan minda yang sukar ditenteramkan, aku pernah menjadi seorang budak yang sangat berani, berprestasi cemerlang, dan sentiasa berdiri tegak menentang ketidakadilan. Ini bukan cerita tentang sifat malas atau tidak matang. Ini adalah sebuah perjalanan jujur memahami diri, merungkaikan kekusutan fikiran, dan belajar berdamai dengan otak yang bekerja dengan cara yang berbeza.
  • Smile, Don't Cry oleh CikaWrites
    CikaWrites
    • WpView
      Membaca 24
    • WpPart
      Bab 12
    Smile, Don't Cry is a philosophical monologue about invisible wounds, loss that reshapes the soul, solitude that matures the heart, and hope rebuilt with awareness. Through ten reflective chapters, this book follows an inner journey-from survival, acceptance, and letting go, to forgiveness, self‑peace, and finally returning home to oneself. Written in calm, poetic English with gentle Korean lines, this book does not offer instant healing or easy answers. Instead, it creates a quiet space where readers feel seen, understood, and less alone. This is a book for those who are tired-but still choosing to live.
  • Akankah kata itu terucap? oleh LaEuphoria
    LaEuphoria
    • WpView
      Membaca 20
    • WpPart
      Bab 2
    Mencoba kembali cerita lama, sepertinya sesuatu yang agak ambigu ya. Oke, sudah lama sekali tidak menulis seperti ini, jemari ini terasa kaku untuk memulai. Jemari ini mulai mencoba memperlincah gerakannya seperti dulu, mencoba mengigat bagaimana dulu bisa menorehkan kata demi kata yang bisa menghabiskan lembaran buku yang kosong. Entahlah mungkin akan terlihat random, untuk memulai dan harus menulis apa saat ini. Tapi jemari ini tetap mencoba bergerak, seakan ingin menceritakan sesuatu tapi belum tau seperti apa. Terus bergerak, hingga pada titik ini. Kehidupan pun seperti jemari ini yang terus bergerak, tidak mau menunggu untuk sedetik pun, kita yang ada pada dulu dan saat ini akan terus berjalan bersama kehidupan entah pada keadaan yang bahagia atau pun tidak, sakit atau pun sehat, kaya atau pun miskin, menangis atau pun tersenyum, sendiri atau pun sudah ada yang menemani. Sepertinya jemari ini membantuku menumpahkan isi kepala ku yang sudah seperti "pasar" dan bisa dibilang " random". Ada banyak pemikiran-pemikiran yang ingin diceritakan, apa pun itu konsep, isu, sekedar pemikiran bodoh, tapi ya meminta untuk dituliskan. Baiklah mari kita mulai.
  • Tidak Semua Luka Harus Sembuh Cepat oleh pulungreva
    pulungreva
    • WpView
      Membaca 14
    • WpPart
      Bab 8
    Ada orang-orang yang masuk ke dalam hidupmu bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajarkan kamu tentang sesuatu yang belum pernah kamu pahami sebelumnya. Saka mengenalnya di balik kaca, di sela kerumunan yang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sejak momen itu, ada sesuatu yang bergeser sesuatu yang tidak punya nama, tapi terasa nyata lebih dari apapun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dia seperti senja. Indah, hangat, sederhana. Dan seperti senja, dia hanya bisa di lihat, tidak pernah bisa dimiliki. Novel ini adalah perjalanan seorang lelaki yang jatuh cinta kepada seseorang yang tidak pernah memilihnya. Tentang percakapan yang terlalu nyambung untuk mudah dilupakan. Tentang luka yang diterima berulang kali, dan tetap kembali. Tentang momen ketika segalanya menjadi jelas, ketika kata-kata yang lembut justru meninggalkan bekas yang paling dalam. Dan tentang satu hal yang paling sulit untuk diakui, Bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan cepat. Dan mungkin, memang tidak seharusnya.
  • Musim Tanpa Riuh oleh lelakisenjaa
    lelakisenjaa
    • WpView
      Membaca 22
    • WpPart
      Bab 4
    Ada ruang di dalam diri manusia yang tidak bisa diisi oleh cinta, sebaik apa pun ia diberikan. Ruang itu hanya mengenal kehadiran teman-tawa yang sederhana, percakapan tanpa tujuan, dan rasa diterima tanpa syarat. Tulisan ini adalah perenungan tentang kehilangan ruang tersebut; tentang seseorang yang baru menyadari bahwa kesepian bukanlah keadaan yang pernah berhasil ia kalahkan, melainkan luka lama yang diam-diam menunggu untuk kembali terasa.