khansacakai
DHAMPIR = 1/2 Manusia & 1/2 Vampir
Di balik kehidupan putih abu-abu SMA yang tampak biasa, Maxime/Max usia 17 tahun menyimpan banyak rahasia yang mustahil dipercaya. Wajahnya masih seperti anak berusia 5 tahun, kulitnya putih, rupanya tampan, dan tubuhnya nyaris sempurna. Namun, di balik senyumnya, darah manusia dan vampir mengalir bersamaan. Sebagai seorang dhampir ia mampu mengendalikan es, air, api, angin, bumi, petir, cahaya, terbang, berteleportasi, memulihkan luka, menggerakkan benda dengan kekuatan telekinesis, bahkan menghentikan waktu. Pertanyaannya, mengapa pemuda sekuat itu justru memilih menyembunyikan dirinya dan keluarganya? Ia juga bisa ibadah, tidur dan makan seperti manusia biasa.
Segalanya berubah ketika Max bertemu seorang siswi pendiam yang selalu menjadi korban perundungan. Gadis itu cerdas, berhati lembut, tetapi tidak percaya diri karena bertubuh gemuk, berkulit sawo matang, dianggap culun, dan terus-menerus dihina hingga kehilangan senyum. Saat semua orang memalingkan wajah, Max justru berdiri di sisinya. Dengan kekuatan warisan darah vampirnya, ia membantu gadis itu menemukan versi terbaik dirinya-lebih sehat, lebih percaya diri, dan berani tersenyum. Namun, Max mengajarkannya satu hal yang jauh lebih penting: cantik bukan ditentukan oleh warna kulit, melainkan oleh keberanian menerima diri sendiri.
Benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Sayangnya, hubungan itu dianggap noda oleh keluarga vampir Max. Mereka menolak seorang manusia biasa menjadi bagian dari garis keturunan vampir. Padahal ibu Max dulunya manusia biasa, rahasia apa yang disembunyikan tentang kelahiran Max? Apakah cinta mereka hanya akan menjadi awal dari perang antara dua dunia? Ataukah justru gadis biasa itu memegang kunci yang mampu mengubah takdir seluruh keturunan vampir?
Saat cinta, kekuatan, dan takdir saling berbenturan, Max harus memilih: menaati keluarganya atau mempertaruhkan segalanya demi orang yang dicintainya.