amoorielaa
PROLOG
Rumah itu selalu tampak seperti tempat yang terlalu sempurna untuk dihuni oleh luka.
Pagi di rumah Rarasati dimulai dengan suara sendok beradu di piring, langkah kaki kecil Nala yang berlari dari kamar, dan suara bapaknya yang selalu lebih dulu bangun dibanding matahari. Mamahnya bergerak di dapur seperti tidak pernah kehabisan tenaga, meski lingkar mata itu sering kali berkata sebaliknya.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh," suara bapaknya terdengar, seperti biasa.
Rarasati hanya mengangguk. Ia duduk untuk bersiap makan, tangan kecilnya memegang sendok yang sama setiap hari, di tempat yang sama, di rutinitas yang tidak pernah berubah.
Tapi pagi itu berbeda.
Ada telepon yang tidak dijawab.
Ada percakapan yang berhenti di tengah kalimat saat ia masuk ke ruang tamu.
Dan ada satu nama yang disebut pelan, tapi cukup membuat udara di rumah itu terasa lebih berat dari biasanya.
"Dia sudah besar... kita tidak bisa terus menyembunyikan ini."
Rarasati berhenti di ambang pintu.
Tidak ada yang menyadari ia berdiri di sana.
Sampai akhirnya ia mendengar satu kalimat yang tidak pernah seharusnya menjadi miliknya
Suara itu putus. Tapi sisanya sudah cukup.
Dunia Rarasati tidak runtuh dengan suara keras. Ia runtuh dengan diam.
Dan sejak hari itu, semua yang dulu terasa hangat berubah menjadi tanda tanya.
Setiap pelukan terasa seperti belas kasihan.
Setiap perhatian terasa ganjil, rumah ini akan tetap utuh atau tidak?
Atau justru ia adalah retakan pertama yang tidak pernah mereka akui?
" Sebab tidak semua anak punya orang tua, tapi tidak semua orang tua berhak punya anak."