khansacakai
"Bagaimana jika setiap doa yang dipanjatkan terlihat seperti cahaya, dan setiap dosa yang dilakukan terlihat seperti luka?"
Sejak lahir, Zephire & Zebryan adalah si kembar dari keluarga kaya raya. Duduk di kelas 11-B & 11-A di SMA yang sama, keduanya tumbuh dengan segala kemewahan yang mereka inginkan. Namun, harta tak membuat hati mereka dekat kepada Allah. Zephire dikenal sebagai siswi manja, keras kepala, dan gemar mengikuti pergaulan bebas. Sementara Zebryan tidak jauh berbeda-suka melawan orang tua, merasa berkuasa karena kekayaan keluarganya, dan memperoleh posisi di Ketua OSIS bukan karena kemampuan, melainkan karena uang dan pengaruh.
Di tengah kehidupan mereka yang serba mudah, hadir Koentji, siswa kelas 10-A. Berbeda jauh dari si kembar, Koentji hidup sederhana sejak lahir. Ia rajin belajar, tegas, cerdas, pandai berbisnis, dan selalu berusaha memuliakan kedua orang tuanya. Baginya, kesuksesan bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki harta, tetapi siapa yang mampu menggunakan nikmat Allah dengan benar.
Pertemuan mereka perlahan menjadi cermin bagi masing-masing. Koentji mulai mempertanyakan pilihan hidup Zephire dan Zebryan, sedangkan si kembar justru menganggapnya sok suci dan terlalu menggurui. Konflik semakin besar ketika kesombongan, pergaulan buruk, kebohongan, dan sikap durhaka mulai membawa konsekuensi yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Waktu berlalu. Mereka akhirnya lulus SMA dan memilih jalan masing-masing. Namun kehidupan justru membalik keadaan. Koentji yang dahulu sederhana berkembang menjadi CEO sekaligus Owner bisnis sukses, bahkan mampu membangun kehidupan yang jauh lebih mapan daripada keluarga si kembar.
Pada titik itu, Zephire dan Zebryan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak pernah mereka miliki meski sejak lahir bergelimang harta: ketenangan hati dan keberkahan hidup.
Jika suatu hari manusia benar-benar bisa melihat bentuk doa dan dosa mereka sendiri, akankah mereka masih berani melakukan dosa yang sama?