0pixhitamarang
Bagi Gibran, Citra, Rian, Aris, Tiara, dan Dimas, pendakian ke Gunung Lawang adalah selebrasi akhir masa kuliah sekaligus pelarian dari penatnya Jakarta. Di bawah rintik hujan kedai kopi penjelang keberangkatan, mereka mengikat janji: pergi berenam, pulang berenam. Tawa lepas, pelukan hangat, dan lagu-lagu lama yang dinyanyikan di sepanjang jalur pendakian membuat perjalanan ini terasa seperti memori musim panas yang sempurna.
Namun, Gunung Lawang tidak sesederhana jalur yang tertera di peta. Semakin tinggi mereka melangkah, kabut tebal tidak hanya menyelimuti hutan, tetapi juga perlahan mengikis topeng persahabatan mereka.
Di balik tenda-tenda yang berderit diterpa angin malam, sebuah jaring rahasia beracun mulai terurai. Ada perselingkuhan panas dan obsesi gelap yang dilakukan di bawah selimut malam tanpa alas, ada kecemburuan yang mematikan yang dipendam rapi, dan ada rasa bersalah yang menggerogoti kewarasan. Hubungan intim yang semula dianggap sebagai pelarian egois, justru menjadi sumbu pendek yang menyulut api kecurigaan.
"Gunung tidak pernah berbohong, ia hanya menyimpan rahasia kita... selamanya."