marasmus
Raka adalah pria yang tampak kuat dari luar, manajer marketing di sebuah agensi ternama di Jakarta, terbiasa mengatur strategi, memimpin tim, dan membuat keputusan yang menentukan arah banyak hal. Hari-harinya dipenuhi rapat tanpa jeda, target yang terus mengejar, dan tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja. Dengan tubuh gempal dan wajah brewok yang menua sebelum waktunya, Raka tampak seperti lelaki yang sudah selesai dengan hidupnya. Padahal, di balik itu semua, ia hanya lelaki yang terus belajar bertahan.
Ia memikul tanggung jawab yang tak ringan-membiayai kuliah adiknya, Azmi, dengan diam dan tanpa keluhan. Setiap lembur, setiap kelelahan, selalu ada alasan yang tak pernah ia ucapkan keras-keras: keluarga. Raka pintar, pekerja keras, dan jarang meminta apa pun untuk dirinya sendiri. Ia belajar menahan lelah, menelan kecewa, dan menunda bahagia.
Namun seteguh apa pun ia membangun hidupnya, ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa ia kendalikan: hati. Di usia 27 tahun, ketika logika seharusnya lebih berkuasa, Raka justru kembali kalah. Ia jatuh cinta lagi-pada Nilam. Mantan kekasihnya. Perempuan yang dua tahun lebih tua darinya, yang pernah mengenalnya sebelum dunia membuatnya sekeras ini.
Nilam hadir kembali bukan dengan janji, bukan pula dengan kepastian-hanya dengan senyum yang sama, suara yang masih mampu membuat dada Raka terasa sempit. Cinta itu dulu pernah berakhir, bukan karena habis, melainkan karena waktu dan keadaan tak berpihak. Dan kini, setelah semua yang ia bangun, Raka sadar: cinta itu tak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, menunggu Raka cukup berani untuk mengaku bahwa, di antara semua keberhasilannya, Nilam tetap menjadi hal paling rapuh sekaligus paling ia rindukan.