iineedmorespacee
Sejak awal, Dira Anindya tahu satu hal
dunia kerja tidak pernah ramah.
Namun selama ini, ia selalu bisa bertahan.
Mengabaikan tekanan.
Menelan lelah.
Dan tetap terlihat kuat di depan semua orang.
Sampai akhirnya
ia dipindahkan ke posisi yang tidak pernah ia inginkan.
Menjadi asisten pribadi CEO.
Alden Pradipta.
Pria yang namanya sudah cukup untuk membuat satu kantor tegang.
Dingin.
Tegas.
Tidak pernah tersenyum tanpa alasan.
Bagi sebagian orang, Alden adalah pemimpin sempurna.
Namun bagi yang bekerja langsung di bawahnya
ia adalah tekanan itu sendiri.
Hari pertama Dira bekerja dengannya
tidak ada sambutan.
Tidak ada basa-basi.
Hanya satu kalimat.
"Kerjakan dengan benar. Aku tidak suka kesalahan."
Sejak saat itu, hidup Dira berubah.
Hari-harinya dipenuhi jadwal padat, perintah tanpa jeda, dan standar kerja yang hampir tidak manusiawi.
Namun bukan itu yang membuatnya terganggu.
Melainkan cara Alden memperhatikannya.
Tatapannya terlalu tajam untuk sekadar profesional.
Perkataannya terlalu personal untuk dianggap biasa.
Dan kehadirannya... terlalu dekat untuk diabaikan.
Awalnya, Dira mencoba tetap fokus pada pekerjaannya.
Menganggap semua itu hanya perasaannya saja.
Namun semakin lama
ia mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
Alden memperlakukannya berbeda.
Tidak lebih lembut.
Namun lebih... intens.
Seolah ia tahu batas Dira.
Dan perlahan
mendorongnya melewati batas itu.
Dira tahu ini salah.
Ia adalah karyawan.
Alden adalah atasannya.
Ada garis yang tidak boleh dilanggar.
Ada batas yang seharusnya tidak dilewati.
Namun setiap kali Dira mencoba menjaga jarak
Alden justru mendekat.
Bukan dengan paksaan.
Namun dengan cara yang membuat Dira tidak bisa benar-benar menolak.
Pertemuan demi pertemuan.
Percakapan yang semakin dalam.
Dan jarak yang semakin tipis.
Sampai akhirnya
Dira tidak lagi yakin apakah ia masih memegang kendali... atau justru sudah kehilangannya.
Karena yang paling berbahaya dari seorang pria dominan
bukanlah kekuatannya.