franky_madridista
Laras Eka Hati lahir pada tahun 2002. Namun sejak belia, takdir tak pernah memberinya porsi hidup yang mudah. Di usianya yang baru menginjak lima belas tahun, duka membanting hidupnya ketika sang ayah, Budiawan Rahmulia-pelindung sekaligus sandaran utama keluarga-meninggal dunia. Bersama kepergian itu, Laras tidak hanya mewarisi kenangan, melainkan juga sebuah beban raksasa: beberapa bidang tanah luas di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Salah satu dari tanah tersebut kini berdiri kokoh sebagai Stadion Kemal Junarso, objek sengketa pelik yang telah berlangsung selama belasan tahun antara keluarganya dan pemerintah daerah.
Sengketa hukum yang tak kunjung usai itu menguras air mata, harta, dan martabat. Di tengah kerapuhan dan keputusasaan, datanglah Kurohman Santiaji. Pria itu masuk ke dalam hidup Laras membawa rasa nyaman, janji perlindungan, dan mimpi masa depan. Laras yang mendambakan sosok pelindung akhirnya percaya. Ia menyerahkan seluruh hatinya, menikah, hingga dikaruniai seorang anak laki-laki yang menjadi alasan utamanya untuk bertahan hidup.
Namun, cinta yang diyakininya ternyata hanyalah jebakan beracun.
Kurohman menghilang begitu saja, mencampakkan Laras dan bayinya tanpa uang sepeser pun di sebuah masjid di Mranggen, Demak. Kebenaran pahit menghantam lebih sadis ketika Laras mendapati Kurohman ternyata sudah beristri. Dalam sekejap, Laras dihina bagai sampah, dipojokkan, dan dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain atas dosa yang tak pernah ia perbuat. Saat seluruh pintu kehidupan seolah tertutup rapat, takdir mempertemukannya kembali dengan Dika Juliatma, seorang penulis paruh baya yang dulu pernah dianggap Laras sebagai figur ayah-sekaligus sahabat lama dari pria yang menipunya.
Dika tidak datang membawa obral janji. Pria penyayang yang kenyang akan penderitaan batin itu hadir bersama puluhan luka dan jejak kehilangan di masa lalunya sendiri. Pertemuan dua jiwa yang sama-sama hancur ini perlahan merobek batasan pandangan "ayah dan anak".