karyasatu
BELUM PUTUS: HAPPY HOUR
Jakarta, 2003.
Ayu Destiani, 23 tahun, bekerja sebagai bartender di sebuah bar dan lounge yang baru dibuka. Di sana ia bertemu Ryan Pratama, 25 tahun, waiter yang tenang, rapi, teliti, dan punya kebiasaan menyebalkan: selalu memperhatikan hal-hal kecil yang orang lain lewatkan.
Awalnya mereka cuma rekan kerja.
Ayu terlalu spontan untuk memahami cara berpikir Ryan. Ryan terlalu tenang untuk mengikuti kekacauan Ayu. Mereka sering berbeda pendapat, saling mengganggu, saling mengejek-tetapi anehnya, selalu bisa bekerja berdampingan.
Masalahnya, mereka masing-masing sudah punya pasangan.
Jadi tidak ada alasan untuk menjadi lebih dekat.
Tidak ada pacaran.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada janji.
Hanya makan setelah kerja, rokok di sela shift, perjalanan pulang yang kebetulan searah, obrolan yang semakin panjang, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan membuat kehadiran satu sama lain terasa biasa.
Terlalu biasa.
Sampai mereka menciptakan aturan yang tidak pernah benar-benar mereka ucapkan:
Happy Hour.
Dekat tanpa label.
Nyaman tanpa status.
Saling menjaga tanpa pernah bertanya, "Kita ini apa?"
Karena selama tidak ada yang menyebutnya hubungan, mereka bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi bagaimana kalau seseorang yang awalnya hanya menjadi bagian dari rutinitas mulai menjadi bagian dari hidup?
Dan bagaimana kalau suatu hari, rutinitas itu harus berhenti?
BELUM PUTUS: HAPPY HOUR adalah kisah tentang dua orang yang tidak pernah benar-benar berjanji untuk saling memiliki-tetapi perlahan belajar bahwa kehilangan seseorang tidak selalu dimulai ketika hubungan berakhir.
Kadang, kehilangan dimulai ketika seseorang yang selama ini selalu ada... tiba-tiba tidak lagi berada di tempat yang sama.
SELAMAT MEMBACA..