privateframe
BEFORE 30
Dua puluh tujuh hari sebelum ulang tahunnya yang ke-30, Keira Anindita merasa hidupnya berjalan baik-baik saja.
Kariernya stabil. Keluarga baik. Pertemanan aman. Tinggal sendiri di apartment yang nyaman. Tidak ada krisis besar yang harus diselesaikan.
Justru karena semuanya baik-baik saja, Keira mulai bertanya-tanya: sebenarnya, apa yang masih ingin ia lakukan sebelum 30?
Ia membuat bucket list.
Awalnya sederhana. Tetapi seperti segala sesuatu dalam hidup Keira, daftar itu perlahan berubah menjadi proyek lengkap dengan kategori, prioritas, tingkat kesulitan, dan kemungkinan risiko.
Sampai ia menemukan satu item yang bahkan sulit ia jelaskan kepada dirinya sendiri:
Nomor 17 - boudoir photoshoot.
Keira tidak ingin melakukannya untuk membuktikan bahwa dirinya cantik. Bukan untuk mencari pasangan, mendapatkan validasi, atau mengatasi rasa tidak percaya diri. Ia hanya penasaran seperti apa rasanya melakukan sesuatu yang selama ini ia inginkan-tanpa harus punya alasan yang terdengar masuk akal.
Masalahnya, Keira tidak terbiasa melakukan sesuatu tanpa alasan.
Dalam pencariannya, ia bertemu Joe, seorang portrait photographer berusia 40-an yang bekerja tanpa studio dan lebih banyak berbicara seperlunya. Tidak ada rayuan, penyelamatan, atau kisah cinta instan. Joe justru memberinya sesuatu yang jarang diberikan orang lain: ruang untuk menentukan batasannya sendiri dan kesempatan untuk berubah pikiran kapan pun.
Ketika photoshoot akhirnya berlangsung di apartment Keira, tantangannya bukan kamera.
Tantangannya adalah dirinya sendiri.
Keira terbiasa mengontrol bagaimana dirinya dilihat, dipahami, bahkan bagaimana setiap keputusan dalam hidupnya harus bisa dijelaskan. Untuk pertama kalinya, ia berada dalam situasi yang tidak bisa sepenuhnya ia kendalikan.
Dan perlahan, ia belajar berhenti melakukan sesuatu dengan "benar" dan mulai mengalaminya.
BEFORE 30 bukan cerita tentang menjadi lebih cantik, lebih berani, atau menemukan cinta sebelum usia tiga puluh.