aku_nomersatu
"Aku ngga mau tau, pokoknya kamu jangan teledor."
Bagi sebagian wanita, kalimat itu terdengar seperti bentuk perhatian yang sangat manis dan protektif. Begitu pula yang dirasakan Paing Nawang Christina saat pertama kali mengenal Alvian Wimatama Lee di aplikasi kencan Bumpy.
Alvian adalah paket lengkap: tampan, mapan, bermarga terpandang, dan selalu membanjirinya dengan perhatian intens yang membuat candu. sebuah love bombing yang sempurna.
Namun, Alvian melakukan satu kesalahan besar. Target yang sedang dia jerat kali ini bukan wanita biasa.
Di balik nama Jawanya, Paing memiliki insting Nawang-sang pengamat yang jeli.
Ketika Alvian selalu menolak video call dengan alasan "lebih suka telepon saja", dan ketika nomor ponselnya terdeteksi berasal dari pedalaman Sumatra yang jauh dari profil elitnya, Paing tidak memilih untuk menangis atau patah hati. Dia memilih menyalakan mode detektif digitalnya.
Saat WhatsApp-nya diblokir, Alvian panik. Sang predator siber berbalik menjadi pihak yang mengejar, meneror lewat DM TikTok hingga panggilan ratusan nomor baru demi menyelamatkan umpan finansialnya.
Di seberang sana, Paing justru duduk tenang sambil memegang secangkir kopi, mendengar dering teleponnya sebagai hiburan gratis dari seorang "badut" yang sedang frustrasi.
Ini bukan lagi tentang bertahan dari penipuan, melainkan sebuah pertunjukan psikologis di mana sang korban memegang kendali penuh, sembari menyisipkan sebuah doa yang tidak biasa: berharap sang penipu menemukan jalan pertobatan.
Sebuah cerita edukatif yang diangkat dari realitas kelam siber cinta, dedikasi untuk setiap wanita agar tidak pernah kalah oleh ilusi kata manis.