yowsih
Anna Grace, seorang mahasiswa semester dua jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang cerdas dan ambisius, harus menghadapi realitas hidup yang mencekik. Alih alih fokus pada impian besarnya merancang pusat bahasa kreatif bernama Creative Language Hub, Anna harus membagi waktu, tenaga, dan batinnya untuk merawat sang nenek, Nenek Maria, yang lumpuh total akibat stroke. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan petak yang lembap di sudut kota bersama Bibi Martha, seorang guru honorer dengan gaji mengenaskan yang terus kalah melawan inflasi, dan Kak Debora, anak medan perantauan yang baru saja terkena PHK massal tanpa pesangon yang layak.
Konflik domestik memuncak ketika kebutuhan obat Nenek Maria menumpuk dan sewa kontrakan jatuh tempo. Sebagai anak laki laki tertua dalam silsilah keluarga yang secara adat diharapkan menjadi tumpuan, Tulang Thomas yang sukses di ibu kota justru menutup mata. Thomas sengaja mengabaikan panggilan telepon dan permohonan adik adiknya dengan dalih posisinya di kantor sedang tidak aman karena restrukturisasi massal.
Puncak ironi terjadi di dunia digital. Ketika rumah kontrakan Anna mati total karena kehabisan token listrik, istri Tulang Thomas justru mengunggah foto mobil sport baru dan kelulusan anaknya di sekolah internasional mewah dengan takarir yang jumawa. Dipicu rasa sakit hati yang teramat pekat, Bibi Martha membongkar kebohongan Thomas di grup WhatsApp keluarga besar. Alih alih meminta maaf, Thomas memilih tindakan pengecut dengan keluar dari grup keluarga, secara resmi memutus tali pertalian darah demi menjaga kenyamanan ego perantauannya.
Di tengah badai ego orang orang dewasa, Anna terhimpit. Di satu sisi, ia diancam akan dicoret dari kelompok kuliah karena terlambat mengumpulkan tugas kesimpulan tesisnya (Improving EFL Learners' English Rhythm), di sisi lain ia harus mendekap tangan Nenek Maria yang menangis didera rasa bersalah karena merasa telah menjadi beban. Malam itu, Anna mengambil keputusan besar: ia mematikan ponselnya, me