Hisame12
Raka Pratama merantau ke kota besar dengan satu tujuan sederhana: mengubah nasib keluarganya. Ia bekerja sambil kuliah, mengambil berbagai pekerjaan paruh waktu, dan hidup dengan serba pas-pasan. Setiap kali ibunya meminta ia pulang, Raka selalu menjawab dengan kalimat yang sama: "Nanti, Bu. Tunggu sampai semuanya lebih baik."
Bagi Raka, pulang bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Pulang berarti membawa kebanggaan, membawa bukti bahwa semua pengorbanan selama ini tidak sia-sia.
Di kampung halamannya, ibunya, Sulastri, tak pernah berhenti menunggu. Ia menyimpan semua cerita kecil yang ingin dibagikan kepada anak semata wayangnya itu. Setiap malam, ia menatap foto lama mereka dan percaya bahwa suatu hari Raka akan kembali duduk di teras rumah sambil mendengarkan keluh kesahnya seperti dulu.
Tahun demi tahun berlalu. Kesibukan, rasa lelah, dan keadaan ekonomi membuat jarak di antara mereka semakin panjang.
Hingga suatu hari, setelah merasa hidupnya mulai membaik, Raka memutuskan untuk pulang. Ia membawa oleh-oleh sederhana, segudang cerita, dan permintaan maaf yang telah lama ia simpan.
Namun, sesampainya di rumah, ia mendapati kenyataan bahwa tidak semua penantian berakhir dengan pertemuan.
Di hadapan sebuah bingkai foto yang dihiasi bunga melati, Raka menyadari bahwa ada kata-kata yang tak sempat diucapkan, pelukan yang tak sempat diberikan, dan waktu yang tak pernah bisa diputar kembali.
Dalam duka dan penyesalan, Raka belajar bahwa cinta tidak selalu menunggu kita siap. Kadang, kesempatan untuk pulang hanya datang sekali.