khansacakai
Bagaimana jika tempat paling aman di dunia tiba-tiba rapuh? Bagaimana jika pelukan yang selalu menguatkan suatu hari tak lagi mampu berdiri? Dan bagaimana baby blues ibu bertahan ketika ia masih sangat membutuhkan ibunya sendiri?
Sejak lama suaminya meninggal dunia, Kareen berjuang membesarkan dua putri seorang diri. Ia tinggal bersama sang ibu, Kurni, yang menjadi penyangga terakhir keluarganya. Di balik rumah sederhana itu, Kareen menghadapi dua dunia yang tak pernah benar-benar bertemu. Kencana, putri sulung yang ekstrovert, keras kepala, manja, dan mendambakan kebebasan tanpa ingin mengenakan jilbab. Sementara Kenanga, si bungsu yang introvert, berjilbab, lembut, penurut, dan selalu ringan tangan membantu pekerjaan rumah.
Setiap hari membawa persoalan baru. Kencana mengadukan pertengkaran dengan adiknya. Kenanga menyimpan luka dalam diam. Kareen berusaha menjadi penengah, tetapi sering kali hatinya tak lagi cukup kuat menampung semua beban. Saat kebingungan, ia hanya bisa meminta bantuan Kurni. Seolah selama ibunya masih ada, semua masalah pasti memiliki jalan keluar.
Namun hidup berubah dalam satu kejadian. Kurni terjatuh hingga tangannya patah. Kejadian itu bukan hanya melukai tubuhnya, tetapi juga merenggut kekuatannya. Fisiknya semakin melemah. Hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan di atas tempat tidur dan kursi roda. Rumah yang dahulu dipenuhi nasihat perlahan diselimuti keheningan.
Di tengah ketakutan yang tak sanggup diucapkan, Kurni mulai menulis surat wasiat. Setiap goresan tinta menjadi pertanda bahwa waktu tidak lagi berpihak. Kareen hanya mampu menangis. Bukankah seorang ibu tetaplah seorang anak yang masih membutuhkan ibunya? Siapa yang akan menjadi tempatnya mengadu? Siapa yang akan memeluknya ketika ia lelah? Siapa yang akan menyatukan Kencana dan Kenanga jika dirinya ikut rapuh? Mampukah dua saudari yang berbeda itu memahami satu sama lain sebelum penyesalan datang?