DiahLstri27
Pada suatu masa yang nyaris lekang oleh zaman, ketika langit menggantungkan kelamnya lebih rendah dari biasa, dan angin berhembus membawa kabar yang tak pernah sempat dituliskan dalam lembar sejarah, negeri ini berdiri dalam diam yang ganjil sunyi yang tidak tenteram, hening yang menyimpan gemuruh.
Tahun itu, orang-orang menyebutnya dengan bisik, seolah menyebutnya terlalu lantang akan mengundang petaka. Seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan sebuah angka yang bukan sekadar bilangan, melainkan gerbang bagi segala tanya yang belum menemukan jawabnya.
Di jalan-jalan yang dipagari rerumputan hijau dan mimpi-mimpi muda yang belum sempat gugur, langkah langkah mahasiswa berderap dalam ragu yang disembunyikan. Mereka membawa suara yang belum utuh, tetapi cukup berani untuk mengguncang dinding dinding kekuasaan yang telah terlalu lama berdiri tanpa pertanyaan.
Dan di antara sekian banyak jiwa yang beriak dalam arus perubahan itu, ada satu nama yang kelak akan dikenang bukan karena lantangnya, melainkan karena diamnya yang sarat makna.
Sabda.
Ia bukan yang pertama bersuara, bukan pula yang paling berani menantang badai. Namun, pada dirinya, waktu seakan berhenti sejenak, menimbang, menakar, lalu menuliskan sesuatu yang tak kasatmata bahwa tak semua perjuangan lahir dari teriakan; sebagian justru tumbuh dari luka yang dipendam dalamdalam.
Di seberang takdirnya, berdiri pula mereka yang kelak akan mengikat cerita ini dalam simpul yang tak mudah terurai persahabatan yang retak oleh keyakinan, cinta yang terjerat oleh pengkhianatan, dan harapan yang perlahan luruh di bawah bayang-bayang kekuasaan yang mulai goyah.
Tiada yang mengetahui, bahwa pada tahun itu, bukan hanya rezim yang akan runtuh melainkan juga kepercayaan, janji, dan hati-hati yang pernah saling menggenggam.
Sebab pada akhirnya, setiap zaman memiliki sabdanya sendiri. Namun tidak semua sabda sempat terucap.
Dan sebagian lagi hanya menunggu untuk didengar, aatau selamanya terkubur dalam riuh