AysanLie
Aku datang ke Edinburgh bukan untuk jatuh cinta, tapi untuk bertahan dan lulus. Menenggelamkan diri dalam skripsi, kerja paruh waktu, dan kopi panas yang menghangatkan dingin di luar dan dalam hatiku. Aku membawa mimpi, trauma, dan prinsip dalam koper yang jarang kubuka. Kupikir, selama sibuk, aku takkan punya waktu merasakan hal lain.
Tapi hidup suka mengejutkan.
Distraksi pertamaku di perpustakaan adalah Theo Elias Beckett, cowok santai dengan hoodie usang dan buku sketsa penuh coretan. Dia sering duduk terlalu dekat meski tahu aku tidak nyaman disentuh. Dia tak berusaha membuatku tertawa, tapi selalu berhasil, terutama saat aku ingin menangis.
Kami berbeda: aku dengan iman dan luka, dia dengan kebebasan dan pertanyaan tentang Tuhan yang tak terucapkan. Kami sering bertengkar soal sentuhan, batasan, dan masa lalu. Tapi kami juga tumbuh bersama, diam-diam.
Dari kafe tempat aku kerja, sampai debat tengah malam soal agama dan filosofi, sampai saat dia bilang dia jadi Muslim bukan karena aku, tapi karena dia menemukan arah hidupnya. Aku tak tahu harus berkata apa.
Ini bukan kisah cinta sempurna. Ini cerita dua orang yang tersesat tapi bertemu di persimpangan yang sama; tentang keluarga rumit, perbedaan budaya, sahabat dramatis, dan seseorang yang hadir untuk duduk di sampingmu, bukan menyelamatkan.
Tentang Edinburgh dan Jakarta, sambal terasi, dosen pembimbing menakutkan, video call sinyal buruk, hadiah ulang tahun yang gagal, dan boneka harimau yang selalu kugenggam.
Tentang perasaan yang tumbuh perlahan, dengan jeda dan salah paham, tapi juga keberanian besar.
Karena cinta kadang bukan jawaban, tapi pertanyaan:
"Jika aku belajar berjalan ke arahmu... maukah kamu menunggu?"
Aku Naia Renara. Ini perjalanan pulangku, bukan ke rumah, tapi ke hati sendiri, bersama seseorang yang memilih berjalan di sisiku karena akhirnya memilih Tuhan yang sama, dengan caranya sendiri, tanpa paksaan.
Apakah ini kisah bahagia?
Aku tak tahu.
Tapi ini kisah yang jujur.