Yuna_Fujiwara2428
Yuna Fujiwara, remaja yatim piatu yang tumbuh di pinggiran desa pegunungan Shirayukiji, menapaki hamparan salju yang tak berujung sambil menggenggam satu lilin kecil. Musim dingin tahun ini berbeda: badai salju yang terus menerjang bukan hanya dingin biasa ia mengubur ladang padi dan taman sayur, membuat tanah tak subur dan panen musnah. Kekurangan pangan memaksa desa hidup dalam kelaparan dan ketakutan; bisik-bisik kuno mengatakan ada satu cara untuk menenangkan kemarahan musim: sebuah pengorbanan yang dipilih oleh para tetua.
Di tengah kecamuk itu, penduduk melihat lilin Yuna lilin warisan keluarganya yang dulu selalu dinyalakan oleh ibu sebagai simbol terakhir harapan. Karena posisinya sebagai yatim dan karena tradisi lama yang mengikat, Yuna dipilih untuk melakukan sebuah ritus di kuil di puncak Shirayukiji: menyalakan lilin, membakar dupa, dan melantunkan rapalan doa yang dipercaya dapat memohon belas kasih musim dingin. Dengan langkah gundah, Yuna memanjat jalan setapak yang berlapis es, menahan dingin yang menggigit dan rasa bersalah yang menempel seperti bekas jejak.
Di kuil, di bawah atap salju dan patung-patung tua yang dilapisi kristal es, ia menata lilin di hadapan altar, membakar dupa yang harum dan menutup matanya untuk menyuarakan doa yang diturunkan generasi. Suaranya lirih tapi tegar ia memohon agar salju berhenti, agar tanah kembali subur, dan agar desa diberi cukup makanan. Namun tradisi tak pernah tanpa syarat: pendeta tua menjelaskan bahwa doa harus datang dari hati yang menerima konsekuensi, bahwa ada harga yang harus dibayar agar keseimbangan pulih.
Saat Yuna melafazkan baris terakhir rapalannya, angin berubah dulu meraung seperti amarah, kini berbisik pelan. Salju berhenti sejenak, lalu berputar menjadi butiran halus yang tampak seperti percikan bintang. Namun mukjizat itu bukan tanpa tanda: tubuh Yuna mulai terasa ringan, napasnya melemah seolah digantikan oleh kilauan ding