NoorAraa
[SEDANG DI REVISI]
Elias datang melamar dengan cara yang sangat... administratif. Tanpa gombalan maut, tanpa buket bunga sebesar ban mobil, tapi entah kenapa sukses bikin keluarga Alya manut dalam sekejap. Mungkin karena Elias punya aura "menantu idaman" yang sangat kuat, atau mungkin karena dia terlihat seperti orang yang tidak pernah telat bayar pajak.
Pernikahan pun digelar: rapi, estetik, dan sangat Instagrammable. Namun, begitu diboyong ke Munich, Alya baru sadar kalau dia bukan sedang membangun rumah tangga. Dia sedang menjalani masa orientasi karyawan baru.
Elias adalah suami yang "terlalu" baik. Saking baiknya, dia lebih mirip customer service bank daripada seorang suami. Dia sangat patuh pada aturan, hidup dalam keteraturan yang mencekik, dan memberikan Alya "tunjangan istri" yang nominalnya lebih mirip dana hibah negara tetangga. Alya punya segalanya: rumah megah, kartu kredit tanpa limit, dan status Halal. Tapi masalahnya cuma satu: Rasanya tetap Jomblo!
Bayangkan, mereka serumah, tapi kalau mau mengobrol rasanya harus kirim email konfirmasi dulu. Elias sibuk dengan kantor dan konflik warisan yang ia gembok rapat-rapat, sementara Alya terjebak dalam status yang absurd: Istri sah di buku nikah, tapi 'Stranger Danger' di meja makan.
Ini bukan tentang menghadapi suami yang kasar, tapi menghadapi pria robot yang memberimu segalanya-termasuk gaji bulanan-kecuali dirinya sendiri. Alya mulai curiga: Apakah dia dinikahi untuk dicintai, atau sebenarnya cuma buat jadi "aksesori" biar Elias nggak ditanya-tanya lagi soal kapan kawin?
Awalnya Alya mau profesional saja-lumayan kan, gajinya besar! Tapi lama-lama, hatinya mulai resign dari logika. Ternyata, jatuh cinta sama bos sendiri (yang merangkap suami) itu nggak ada di dalam kontrak!