hannideswita
Di Pesantren Fathah Mu'min, aturan bukan sekadar tulisan di papan pengumuman hidup dalam kebiasaan, adab, dan tatap mata yang ditundukkan. Eliza Lahtani datang sebagai santriwati baru yang pintar, cerdas, modern, tapi juga ceroboh. Eliza mampu memahami pelajaran lebih cepat dari kebanyakan orang, berani bertanya, berani berpendapat. Namun keberanian itu sering membuatnya ceroboh,salah langkah, salah ucap, dan kadang tak sadar sudah melanggar batas-batas kecil yang bagi pesantren adalah harga diri. Di balik semua itu, Eliza menyimpan satu niat yang diam-diam dia jaga rapat yaitu menjadi perempuan salihah tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Lalu ia bertemu seseorang yang membuat ritme hidupnya berubah pelan-pelan. Bukan sosok yang memikat dengan rayuan, justru yang hadir dengan tenang, bicara seperlunya, dan menegur tanpa merendahkan. Nasihatnya singkat tapi terasa tepat sasaran, seolah bisa menebak kegaduhan yang Eliza sembunyikan di balik senyumnya. Eliza yang biasanya santai mendadak belajar menahan diri: menata adab, merapikan niat, dan mengulang-ulang pertanyaan yang sama di kepalanya kenapa satu tatapan bisa membuat hati seramai itu?
Ketika amanah pesantren mempertemukan mereka lebih sering, Eliza mulai sadar bahwa perasaan ini bukan sekadar baper santri baru. Ada batas yang harus dijaga, ada nama baik yang dipertaruhkan, dan ada ujian yang tidak bisa diselesaikan dengan kecerdasan semata. Di tengah bisik-bisik teman, tugas-tugas yang menuntut kedewasaan, dan rahasia yang tanpa sengaja ia ketahui, Eliza harus memilih: menahan rasa sampai padam, atau memperjuangkannya dengan cara paling bersih tanpa melukai adab, tanpa membuat pesantren menjadi rumor, dan tanpa mengkhianati niatnya sendiri. Karena Eliza hanya ingin belajar... tapi kenapa yang kupelajari justru namamu?