KastilTanpaRatu
Di awal, ada Laut.
Sosok yang datang seperti arus lembut di tengah gelombang hidupku, tanpa peringatan, namun
membuatku terhanyut.
Aku hanyalah mercusuar di tepian, berdiri diam, menatap dari jauh.
Kadang aku dekat, kadang hanya bisa menyinari jalannya tanpa disentuh.
Cinta itu seperti cahaya: setia, tapi tak selalu bisa diraih.
Kami berjalan bersama, diam-diam, menyusuri lorong kampus, tawa kami membelah kesunyian.
Aku belajar mencintainya perlahan, melalui kode, perumpamaan, dan detik-detik kecil yang
tersimpan di antara rapat, hujan, dan malam-malam yang panjang.
Namun gelombang itu tak selalu tenang.
Ada karang, ada arus lain, ada hujan yang jatuh terlalu deras,
dan aku harus belajar bahwa cinta yang paling tulus pun bisa tersesat di laut yang luas.
Ini bukan sekadar cerita tentang kehilangan.
Ini tentang bagaimana seseorang bisa mencintai dengan sepenuh hati,
menjadi mercusuar yang setia,
meski tak pernah bisa menjadi bagian dari arus yang dituju.
Dan disanalah aku berdiri, menyimpan Laut,
menyimpan setiap tawa, setiap rasa, dan setiap hujan yang pernah jatuh di antara kami.