dmwsyz
Di balik tembok Pesantren Al-Muqaddimah yang tenang, tersimpan kisah-kisah kecil yang hangat, lucu, dan diam-diam menumbuhkan rasa. Gus Nabil, seorang gus yang santai, gemar ngopi, dan hobi komik, dipertemukan dengan Zahro, santriwati cerdas yang lembut, tekun, dan penuh kesederhanaan. Pertemuan mereka bukan dimulai dari janji manis, melainkan dari tradisi pesantren: perjodohan.
Hari-hari mereka diisi hafalan, kitab kuning, sandal tertukar, kopi yang terlalu pahit, dialog canggung, hingga tawa yang tak disengaja. Dari warung kopi kecil, perpustakaan, hingga serambi masjid, benih-benih rasa tumbuh perlahan-bukan sebagai cinta yang meledak-ledak, tetapi sebagai kedekatan yang tenang dan menguatkan.
Novel ini menggambarkan perjalanan dua santri yang belajar memahami arti perasaan, ketulusan, dan komitmen di tengah kehidupan pesantren. Bukan hanya tentang jatuh cinta, tetapi tentang belajar sabar, memaafkan, dan menerima. Antara kitab dan cinta, Gus Nabil dan Zahro menemukan bahwa keduanya tak saling meniadakan-justru saling melengkapi.
Sebuah kisah ringan, hangat, dan penuh nuansa pesantren, tentang tawa sederhana, dialog canggung, dan cinta yang tumbuh pelan-pelan namun menetap.