rezkifajriansyah
Air tidak pernah lupa.
Oka Mahendra tahu itu sejak kecil. Saat anak-anak lain bermain di darat, ia melompat ke sungai Musi, menyelam hingga dasar yang gelap, dan merasakan getaran-getaran aneh di telapak tangannya. Bukan arus. Bukan ikan. Tapi ingatan. Sungai itu mengingat kapal-kapal besar yang dulu berlabuh, para pedagang yang berteriak dalam bahasa asing, dan di suatu lapisan yang lebih dalam, dendam yang tidak pernah sirna.
Ia tidak tahu bahwa ia mewarisi Laut Mengingat - kemampuan untuk membaca ingatan yang tersimpan dalam air, warisan dari Kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai Selat Malaka.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Oka berdiri di tepi pantai timur Sumatra, ditemani Gia, Tandilalang, Tari, dan Anike. Di hadapan mereka, laut tidak bergerak. Tidak ada ombak. Tidak ada angin.
Seolah-olah laut sedang menahan napas.
"Ini bukan alamiah," kata Gia, peta kulit kayu terbuka di tangannya. "Titik putus di Selat Malaka tidak hanya merusak pagar. Ia membiarkan sesuatu masuk. Atau... bangun."
Dari kejauhan, kabut hitam mulai merayap di atas permukaan air. Dan di dalam kabut itu, siluet-siluet besar. Kapal. Puluhan kapal tanpa bendera, tanpa lampu, tanpa awak yang terlihat.
Kapal hantu.
Oka merasakan dadanya sesak. Bukan karena takut. Karena air di sekitarnya berbisik. Bukan dalam kata-kata, tapi dalam getaran yang menusuk tulang.
"Pulang. Pulang ke Palembang. Sebelum arus menyeretmu ke dasar."
Ia mengepal tangan. Di telapaknya, simbol Warisan Darah bersinar biru - lebih terang dari biasanya.
"Oka," Gia memanggil. "Apa yang air katakan?"
Oka menelan ludah. "Ia bilang... kita tidak sendirian. Di dasar laut ini, ada yang tertidur. Dan kita baru saja membangunkannya."
Dari dalam kabut, suara gemuruh rendah terdengar. Bukan guntur. Bukan ombak. Tapi sesuatu yang bernapas. Dalam. Panjang. Seperti raksasa yang membuka mata setelah tidur seribu tahun.
Selat Malaka belum pernah benar-benar aman. Dan Oka tidak akan pernah bisa pulang sebelum ia mengingat siapa dirinya sebenar