ledisalbarreza24
Masa SMP adalah salah satu bagian paling berwarna dalam hidupku. Dari semua pelajaran yang ada, seni tari adalah yang paling membuatku bersemangat setiap hari Rabu siang.
Awalnya, aku tidak terlalu percaya diri. Saat pertama kali Bu Rani, guru seni budaya kami, mengumumkan bahwa kami akan belajar tari tradisional untuk persiapan pentas sekolah, aku langsung panik. "Aku nggak bisa menari," gumamku dalam hati. Gerakanku kaku, dan aku sering salah hitungan.
Latihan pertama terasa canggung. Musik diputar, dan kami diminta mengikuti gerakan dasar. Beberapa teman terlihat luwes, sementara aku masih bingung membedakan gerakan tangan kanan dan kiri. Teman sebangkuku, Dinda, berbisik sambil tersenyum, "Santai aja, nanti juga bisa."
Sejak itu, kami selalu latihan bersama. Sepulang sekolah, kami menyempatkan diri mengulang gerakan di aula. Kadang kami tertawa karena ada yang salah arah, kadang juga saling menyemangati saat mulai lelah. Bu Rani tidak pernah marah jika kami salah. Beliau justru berkata, "Menari itu soal rasa dan kebersamaan, bukan cuma hafal gerakan."
Hari pentas pun tiba. Aula sekolah penuh dengan siswa dan guru. Jantungku berdegup kencang saat namaku dan kelompokku dipanggil. Lampu panggung menyala, musik mulai terdengar. Untuk sesaat aku ingin mundur, tapi aku teringat semua latihan dan tawa bersama teman-teman.
Kami menari dengan kompak. Setiap gerakan terasa mengalir begitu saja. Saat musik berhenti, tepuk tangan memenuhi ruangan. Aku tersenyum lebar-bukan hanya karena tampil dengan baik, tapi karena berhasil melawan rasa takutku sendiri.
Sejak saat itu, seni tari bukan lagi pelajaran yang menegangkan, melainkan kenangan manis tentang persahabatan, keberanian, dan kebersamaan di masa SMP. Dan sampai sekarang, setiap kali mendengar musik tradisional diputar, aku selalu teringat hari-hari menyenangkan itu.