ʬʬ 𝟬𝟬𝟭. live in a world of magic that can make you happy
ㅤㅤㅤㅤ──── RIMURU TEMPEST × FEM! READER
ㅤㅤ ❝𝘠𝘰𝘶'𝘳𝘦 𝘮𝘺 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘰𝘯, 𝘣𝘶𝘵 𝘸𝘦 𝘯𝘦𝘦𝘥 𝘵𝘰 𝘸𝘢𝘪𝘵 𝘧𝘰𝘳 𝘵𝘩𝘦 𝘳𝘪𝘨𝘩𝘵 𝘮𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵.❞
Kau adalah mahasiswi tahun kedua dengan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KERIBUTANTERJADILAGIDIDALAMTENDA, mereka bertiga memperebutkan makanan. Kamu mendengus kesal dan memutuskan mengajak Shizue (satu-satunya orang yang warasdi dalam tenda) untuk mengelilingi desa, sekaligus memperkenalkannya ke beberapa Goblin.
Para Hobgoblin dan Goblinas terkadang menyapamu di dalam perjalanan. Kaijin bersama tiga saudara Dwarf masih sibuk mengawasi pembangunan. Para Goblin bekerja mengangkut kayu, menyusun batu, dan memasang tiang-tiang rumah sesuai arahan mereka. Dibanding beberapa hari yang lalu, desa ini sudah berubah jauh lebih berkembang.
Pandanganmu kemudian berhenti pada dua bangunan yang masih dalam proses pengerjaan. RumahRimuruhampirselesai, rumahkujugasepertinyasudahsetengahjadi.
Rumahmu sengaja dibangun agak jauh dari rumah Rimuru yang berada tidak jauh dari gua tempat kalian pertama kali keluar. Meski begitu, para Goblin dan Dwarf tampak lebih memprioritaskan rumah kalian berdua dibanding bangunan lainnya.
Setelah puas mengelilingi desa, kau mengajak Shizue menuju tendamu. Meski dari luar masih tampak seperti tenda biasa, bagian dalamnya sudah direnovasi oleh para Dwarf sehingga terasa jauh lebih nyaman untuk ditempati.
Kau menyingkirkan kain penutup pintu lalu menoleh ke arahnya. "Shizue-san, silakan duduk! Aku akan mengambil buah dan minuman." Ucapmu sambil menunjuk meja rendah di tengah ruangan yang dikelilingi hamparan karpet tebal.
Shizue mengangguk kecil sebelum duduk dengan tenang.
Sementara itu, kau berjalan ke sudut tenda. Ada rak kayu sederhana yang di atasnya berisi berbagai benda. Tanganmu mengambil teko berisi teh hangat, dua cangkir, serta beberapa buah apel yang baru dipetik pagi tadi.
Kau berpikir tidak sopan jika hanya duduk dan berbicara begitu saja, pasti bosan bukan?
Kau kembali menghampiri meja, lalu meletakkan semuanya dengan hati-hati. Setelah itu, kau duduk berlutut di hadapan Shizue dengan meja kecil sebagai pembatas di antara kalian. Matamu menatapnya sambil tersenyum tipis, "maaf ya, cuma ada apel. Tidak apa-apa, kah?"
Shizue menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Syukurlah." Kau terkekeh kecil sebelum menuangkan teh ke dalam cangkirnya.
Suara air hangat yang memenuhi cangkir perlahan mengisi keheningan di dalam tenda. Aroma teh yang lembut mulai menyebar, menciptakan suasana yang terasa damai.