She's Rain

4 0 0
                                        

Angin berhembus cukup kencang siang ini. Membawa serta hawa dingin yang selalu terasa pada beberapa hari terakhir. Jika dilihat dari awan yang mulai menghitam dengan cepat dan sangat pekat, sepertinya hujan lebat akan turun lagi seperti tiga hari belakangan ini .

Aku mempercepat langkahku menuju cafe tempatku biasa menghabiskan akhir pekan, Victoire Caffe, ketika kurasa gerimis rintik-rintik mulai turun. Tepat setelah aku melangkahkan kakiku ke dalam, hujan turun dengan lebatnya. Aku menghela napas lega karena tidak jadi kehujanan.

Setelah memesan seperti biasanya, secangkir americano dan dark choco brownies, aku segera menuju tempat biasanya aku duduk. Pojok depan kanan, tepat di samping jendela adalah tempat favoritku. Sambil menunggu pesananku datang, kubuka ponselku yang hampir seharian ini kuabaikan karena aku ingin beristirahat tanpa satu gangguan apapun.

Sejumlah 30 pesan dan 10 panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi, dan kesemuanya berasal dari satu orang yang sama. Aku tersenyum kecil ketika mengetahui hal itu. Baru saja aku akan menghubunginya balik, satu panggilan masuk dari satu nama yang sama telah terlebih dahulu menyapa. Dengan senyum yang semakin lebar, kuangkat panggilan tersebut.

"Halo ...," sapaku sebelum suara di seberang terdengar.

'Halo? Tara? Yakk! Kau kemana saja seharian ini? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi sama sekali?'

Aku agak menjauhkan ponselku dari telinga ketika mendengar balasan cempreng dari seberang. Aku mendecak sebal ketika ingat itu semua gara-gara aku yang menghilang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

'Halo, Tara? Kau masih di sana kan? Hei, jangan mengabaikanku!' Suara cemprengnya kembali terdengar ketika aku mendekatkan ponselku kembali.

"Ck, jangan teriak-teriak. Pendengaranku masih normal asal kau tahu," ujarku sebal.

'Ohh, aku kira kau sudah budeg karena kupanggil dari tadi tidak menyahut. Dan aku tidak akan minta maaf karena berteriak padamu. Itu salahmu sendiri karena tidak memberi kabar seharian ini.'

Aku meringis kecil mendengar itu. Yahh ... Bisa dibilang ini memang benar salahku. "Maaf. Seharian tadi aku istirahat, tubuhku masih lelah setelah perjalanan seminggu ini tanpa jeda."

'Aku tahu, aku maafkan kali ini. Jangan diulangi lagi, ya? Aku khawatir kau kenapa-kenapa karena tidak bisa dihubungi sama sekali dan juga tidak memberiku kabar. Aku sampai tidak bisa tidur nyenyak semalam kau tahu karena terus-terusan kepikiran denganmu. Tapi... ya sudahlah, karena kau baik-baik saja jadi tidak apa-apa.'

Terdengar helaan napas lega di akhir kalimatnya. Aku semakin merasa bersalah mendengar itu. Dia ... Sangat baik dan perhatian sekali denganku, tetapi aku masih saja menjadi seseorang yang brengsek.

"Maaf. Aku tidak berpikir sejauh itu. Tidak akan kuulangi lagi lain kali," ujarku sungguh-sungguh.

'Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan. Oh ya, ngomong-ngomong sekarang kau di mana? Hujan sedang lebat-lebatnya kau tahu? Jangan berada di luar sendirian. Kau tahu maksudku, kan? Bukan berarti aku meragukanmu.'

"Aku di Victoire, baru saja sampai. Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir," ucapku mencoba menenangkan meskipun aku sendiri masih sedikit ragu akan hal itu.

'Paboya! Haishhh bocah ini! Jangan kemana-mana. Lima belas menit lagi aku akan sampai di sana. Bye-bye Tara. Tunggu aku!'

Setelahnya bunyi panggilan dimatikan sepihak terdengar. Aku menghela napas ketika mendengar ucapannya. Dasar bodoh! Apa dia akan menerobos hujan lagi hari ini? Aku menyeruput americano-ku untuk menenangkan emosiku yang hampir naik.

Hujan terlihat semakin deras, tidak ada tanda-tanda akan reda, dan si bodoh itu akan ke sini? Yang benar saja. Sebenarnya, aku tidak heran akan reaksinya yang seperti itu. Dia pasti was-was aku melakukan hal yang tidak-tidak ketika hujan, karena dia tahu aku benci hujan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 09, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

She's in the RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang