Maaf ya saya nggak bisa bikin point of view nya Devan karena cerita ini memang inti nya adalah sisi pandang Marsha. Selain Marsha dan Author nggak ada lagi point of view yang akan muncul. Jadi, selamat membaca :D
✖️✖️✖️
Author POV
Matahari menembus tirai kamar Marsha malu-malu. Cahaya nya seperti memandikan Marsha yang masih terbalut oleh selimutnya. Tangannya masih memegang tas kecil berbentuk bunga daisy.Seketika ia terbangun dan melihat jam dinding di kamar nya yang bernuansa Hitam-putih. Ia terkejut saat melihat jarum pendek itu mengarah ke angka 6. Ia seharusnya sudah bersiap menuju ke sekolah saat ini.
Ia lalu segera mandi dan buru-buru menyiapkan buku-bukunya. Setelah dirasa cukup, ia berlari keluar kamarnya dan menuruni tangga yang mengarah menuju ruang makan.
"Pagi Sha. Sini duduk , sarapan dulu." Ajak seorang wanita paruh baya yang sudah kita tebak sebagai Ibunya. Dan tentu saja tebakan para pembaca memang benar. "Udah telat ma" balas Marsha. "Yaudah nih bawa aja ke sekolah" ujar Mama. "Sweaternya mana?"lanjutnya. Marsha menepuk keningnya katena kecerobohannya. Ia terus mengutuki dirinya dalam hati.
Sesampainya di kamar Marsha segera mengobrak abrik lemarinya, mencari sweater yang pas untuk hari ini. Akhirnya ia menemukan salah satu dari sekian banyaknya sweater favorit nya.
Sweater berwarna dasar hitam yang dihiasi corak bunga daisy. Lagi-lagi bunga kesukaannya itu muncul. Ia merapikan penampilannya dan menyemprotkan parfum lalu berlari keluar kamar lagi.
Setelah berpamitan dengan mama, ia segera memasuki mobilnya. Sebuah mobil mini cooper berwarna Hitam mengkilat sudah menunggunya. Ia segera menyalakan mesinnya dan tancap gas menuju SMA Nusa Bangsa IV.
✖️✖️✖️
Marsha menuruni mobilnya, ia lalu menarik tasnya dari jok belakang dan berjalan santai menuju kelasnya. Seragam hari ini adalah sebuah kemeja polos berwarna hitam dengan dasi putih yang dibalut oleh sweater daisy milik Marsha. Ia mengenakan sepatu Vans berwarna kuning dan kaus kaki berwarna hitam sepanjang lutut. Rok bermotif kotak-kotak kuning itu menghiasi penampilannya. Rok selutut yang sedikit ia tinggikan untuk mempercantik penampilannya.
Rambut hitamnya ia gerai sehingga gelombang-gelombang di bagian-bagian terbawah rambutnya nampak terlihat jelas. Ia mengaplikasika. Make up yang sangat natural. Dan tentu saja. Tas bermotif Daisy kesukaannya. Ia berjalan penuh semangat menuju kelasnya yang sudah seminggu ia tempati ini. Tentu saja ia cukup mengenal beberapa murid kelasnya. Ia bahkan sudah berteman baik dengan salah satu murid kelas lain. Namanya Khelisha Meredith Moschkovich. Yang akrab disapa Khelisha.
Saat akan menaiki tangga ia berpapasan dengan Khelisha dan seorang cowok yang berjalan beriringan dengannya. Khelisha tersenyum manis kearah Marsha meninggalkan tanda tanya di kepala Marsha. Ia penasaran. Siapa cowok yang sedang di gandeng Khelisha tersebut. Ya, Marsha akui cowok itu memang cukup tampan. Ia tinggi, putih, dan wajahnya agak mirip dengan Khelisha. Apa dia kakaknya? Tapi Khelisha tidak pernah bercerita bahwa ia punya kakak. Mungkin nanti saat istirahat Marsha bisa menanyakannya.
✖️✖️✖️
Keadaan kelas cukup ramai. Marsha segera menaruh tasnya di bangkunya, seperti biasa ia akan langsung berkumpul dengan Beatrice dan Reyna. Keduanya adalah teman dekatnya di kelas.
"Hi guys" sapa Marsha kepada keduanya yang sedang asyik mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan. Jessica dan Reyna menoleh seraya tersenyum lebar mendapati Marsha sedang berada di hadapan mereka.
"Hei Sha. Btw Sha, kamu tadi liat nggak?"tanya Reyna membuat Marsha penasaran. "Lihat apaan?" Tanya Marsha.
"Bangku kosong di belakang kamu itu ternyata ada yang nempatin. Tadi pagi ada murid cowok yang masuk dan langsung taruh tasnya disitu terus keluar lagi. Untung aja kita dateng pagi jadi bisa liat mukanya, ganteng banget sha. Kita sampe melting gitu hihihi" kikik mereka berdua. Marsha tambah penasaran. Ia berlari ke lapangan untuk mencari murid cowok itu. Kayaknya dia baru masuk hari ini. Mungkin kemaren dia masih liburan. Batin Marsha, ia celingak celinguk mencari sosok cowok itu. Bodohnya ia karena ia sendiri belum tau bagaimana tampak wajah cowok itu. Dan
BRUKK
Marsha tidak sengaja bertabrakan oleh seorang murid cowok. Keduanya sama- sama terpental ke arah yang berlawanan. Tidak ada adegan dimana si cowok menangkap ceweknya dan membiarkan mereka dalam posisi seperti itu. Yang ada hanyalah Marsha yang mencoba bangun dan mengusap-usap sikunya yang sedikit terluka.
"Eh maaf ya maaf. Gue buru-buru maaf banget ya." Ucap Cowok itu. Ia berkali-kali minta maaf pada Marsha sampai Marsha mengangguk lemah. Cowok itu mengulurkan tangan nya untuk membantu Marsha bangkit dari posisi jatuhnya. Disitulah Marsha bisa melihat wajahnya. Wajah tampannya yang sedang tersenyum penuh khawatir terhadap Marsha.
"Marsha? What are you doing?"

KAMU SEDANG MEMBACA
✖️Reality✖️
Teen FictionKisah-kisah cinta itu. Siapa yang nggak mau? Berakhir bahagia. Tentu saja semua orang mau. Dan tentu saja kalian sudah sering mendengar kisah semacam Benci menjadi Cinta. Tetapi kali ini. Akan kutunjukan. Benci tidak selalu menjadi cinta. Siapa yan...