Perempuan Pelupa
dan Hari Tak SempurnaApa jadinya kalau rencana yang sudah kau susun sedemikian rupa tidak berjalan dengan seharusnya?
Lagi-lagi Dave tidak datang ke tempat perjanjian. Padahal dialah yang menentukan di mana dan pukul berapa kami bertemu. Ucapan anak itu memang tidak bisa dipegang. Aku sudah jauh-jauh datang ke mari, mengorbankan jam tidur yang dipangkas sekian puluh menit dan udara dingin yang rasanya menggigit hingga tulang. Seharusnya kalau memang batal, dia beritahu lebih awal. Dasar Dave! Dia barusan menelepon, memberi kabar bahwa pertemuan diundur. Ada satu hal dadakan yang terjadi.Kupikir terlanjur ada di sini, mungkin tidak ada salahnya jika aku menggerakkan-gerakkan tubuhku sebentar. Untuk membuatnya hangat. Jadi, usai menyelipkan ponsel ke dalam tas kecilku, aku melakukan stretching. Membiarkan punggung yang dilindungi jaket, setengah berbaring di atas aspal yang bercampur pasir dan kerikil kecil.
Perempuan itu sudah kulihat sejak dia melakukan gerakan merentang-rentangkan tangan, hingga membungkuk menyentuh ujung sepatunya. Kepalanya menoleh kanan-kiri sekian kali, seperti membuat perkiraan arah mana yang akan dia ambil. Selanjutnya dia akhirnya memilih terus berjalan lurus. Dari jalan cepat kemudian menjadi berlari-lari kecil.
Melintas ke dekat tempatku dan motor berada, aku tahu dia sedikit berputar menjauhi. Sebuah benda seperti kertas yang dilipat-lipat, kusut dan kusam terjatuh tepat di dekat lenganku. Sekilas melihatnya, aku segera tahu itu adalah uang. Aku memanggilnya, dengan suara yang sekiranya dapat dia dengar. Memang tidak terlalu keras, lagipula dia tidak terlalu jauh jaraknya dariku. Bisa dibilang dia hanya sekian jengkal dari lenganku. Akan tetapi perempuan itu acuh. Mungkin saja telinganya menggunakan earphone. Kebiasaan umum hampir semua orang yang jogging sendirian, pergi dengan ditemani iringan musik dari ponsel mereka.
Aku bangkit dari posisiku, lalu mengambil satu langkah panjang. Selanjutnya yang terjadi tanpa kusadari seratus persen adalah tangaku sudah menarik ujung bajunya.Dia berhenti, sejenak terdiam, masih di posisinya. Baru sesudah itu memutar tubuhnya. Aku tak melihat kabel kecil panjang, jadi rupanya dia tidak sedang mendengarkan apapun. Apa dia lari-lari sambil melamun?
Matanya yang kecil sekarang menelisik. Ekspresinya tampak kesal, tapi ada sedikit kekhawatiran di sana. Aahhh, aku segera menyadari penampilanku yang serba hitam. Well, kecuali rambut, sih.
Aku memungut uang yang ada di belakang kakiku. Ya, ampun aku sampai membuat posisi pasang kuda-kuda begini. cepat-cepat kuluruskan kaki, berdiri dengan posisi biasa. Dia akhirnya menerima uang tersebut, meski sebelumnya sempat kebingungan. Jangan-jangan, dia juga lupa atau tidak tahu kalau di saku celana trainingnya ada selembar uang yang jumlahnya lumayan. Buatku, uang sebesar itu bisa membeli rokok sekian batang.
Usai berterima kasih dan meminta maaf dengan canggung, dia membalik tubuhnya lagi. Namun, saat itu terjadi, sebuah benda terjatuh lagi. Aku memanggilnya, lagi, kali ini dengan teriakan keras. Tetapi agaknya dia tidak peduli.
Aku ambil benda itu, menimang-nimangnya di tangan. Sebuah ikat rambut yang terbuat dari manik-manik. Ikat rambut buatan sendiri, ya?
Entah ada dorongan apa, aku malah memasukkan ikat rambut itu ke saku jaket. Selanjutnya merapikan diri, dan mulai menstarter motor. Bersiap pulang.
Teringat lagi dengan perjanjian bertemu dave yang batal atau gagal, apapun itu, membuatku kesal dan lapar. Sudah waktunya sarapan. Tetapi tidak ada yang berjualan.Terpaksa kulesatkan motor memutari jalanan komplek stadion, hingga keluar menuju jalan besar. Pulang ke rumah? Bukan pilihan tepat. Kemarin aku baru saja meminta Mbok Tur berhenti. Kalau Mom tahu aku yakin dia akan sangat marah. Sebab katanya bisa menemukan seseorang yang dapat membantu urusan domestik yang bersikap baik dan jujur, sudah termasuk perkara sulit sekarang ini. Dan, aku malah menyuruh wanita sebaya ibuku dan telah membantu selama 12 tahun itu berhenti.
Alasan pertama, aku kasihan padanya. Lagipula aku jarang ada di rumah. Biasa makan di luar. Bahkan tidur pun di tempat lain. Tempat Dave salah satunya. Ya, belakangan ini, baru sekian kali saja. Alasan kedua, aku sedang berusaha menjauhkan saksi-saksi mata. Jika nantinya, rumahku mendapat giliran jadi tempat kumpul-kumpul. Ketimbang repot saat itu terjadi. Lebih baik jauh-jauh hari dari sekarang. Bagaimana kalau Mom bertanya? Tentu saja alasan pertama yang akan kusampaikan.
Matahari sudah mulai merangkak, saat aku memasuki mini resto yang pintunya terbuka disbanding tempat sejenis dikanan-kirinya. Banyak café yang mengaku “buka 24 jam non-stop”, tetapi faktanya tidak. Dan di antara semua, setidaknya di wilayah ini, Today’s Menu termasuk tempat yang bisa diandalkan. Bahkan masuk ke daftar tempat yang juga direkomendasikan untuk acara-acara sekelas anak kampus, komunitas atau orgnisasi.
“Hei! Jam segini sudah ada di sini? Gak kepagian?”
Mia, salah satu waitress, menyapa. Lap di tangannya yang kulihat baru saja diambil dari salah satu laci, dia letakkan lagi di atas meja, lalu dia usap-usapkan telapak tangan ke celemek. Mata dan senyumnya kentara sekali jika dia begitu senang melihat kedatanganku.
“Sudah bisa pesan sesuatu, kan?”
Kuperiksa jarum dan angka di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Pukul 8 lewat 15 menit. Oke, biasanya tempat ini buka jam 9, setengah sembilan paling cepatnya.
“Hmm, bisa. Chef sudah datang dari tadi, kok.”
“Okelah, menu sarapan seperti biasanya,” ujarku. Tanpa menuliskan sesuatu apapun di kertas pesanan. Buku menu kubolak-balik sebentar. Sekilas terlihat ada yang baru. Tetapi aku belum tertarik.
Sembari menunggu aku hanya duduk bersandar, menatapi arus jalan raya yang jadi pemandangan utama, dengan kedua tangan kumasukkan ke saku jaket. Tersadar satu hal, ketika benda itu tersentuh tangan, lalu mengeluarkannya mengamatinya lagi.
Kenapa aku memungut benda ini? Tadi sempat terlintas dalam kepala, kalau dia memutari luar stadion hingga ke tempatku berada, aku bisa memberikannya. Sekalian membuat dia malu untuk yang kedua kali. Mungkin nanti, dia akan mencatat di buku harian atau jurnalnya sebagai “Hari yang Memalukan”. Aku mengarahkan tatapan ke jendela lagi. Dan tersentak mendapati bayanganku yang memantul dengan bibir tersenyum. Apa-apaan barusan itu?Cepat-cepat, kumasukkan ikat rambut tersebut ke dalam ransel. Berbarengan dengan pesanan yang datang. Baiklah, sayang, it’s tummy time. Kalau ada yang membuatku berbinar, yang paling pertama adalah makanan. Uang? Ah, siapapun suka. Tapi bagiku, terkecuali uang dari Dad.
Baru saja di benak, ponselku sudah bordering lembut dan bergetar di atas meja. Nama kontak yang terdiri dari tiga huruf muncul tenggelam seiring dengan cahaya ponsel yang berkedip. Panjang umur. Kuusap tombol berwarna hijau ke atas. Kemudian menempelkan ponsel ke dekat telinga kiri. Membiarkan kalimat tanya yang terlontar dari seberang sana. Jawabannya bahkan sudah siap sebelum soal ujian itu muncul.
“Aku sibuk dan belakangan ini jarang pulang ke rumah. Buat apa ada yang mengurus ini-itu, Mom?”
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Terlanjur
RomanceSendang pikir kata cinta bukanlah untuknya. Mahligai pernikahan yang ia kira akan mampu bertahan, apapun keadaan dan rintangannya, kandas usai 7 tahun. Tujuh tahun yang semula baik-baik saja, di antara ikhtiarnya agar bisa mempunyai keturunan. Sayan...