“Bu, Yuna pamit berangkat sekolah.”
“Iya, hati-hati di jalan, Yun,” jawab Bu Oliv lembut.
Aku tersenyum singkat sebelum melangkah keluar dari halaman panti asuhan yang telah menjadi rumahku sejak kecil.
Namaku Yuna. Sejak usia dua tahun, aku tinggal di Panti Asuhan milik Bu Oliv. Kedua orang tuaku meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, dan aku adalah satu-satunya yang selamat. Tidak ada keluarga dari pihak Ayah maupun Ibu yang datang menjemputku. Sejak saat itu, panti asuhan ini menjadi satu-satunya tempat yang kupanggil rumah.
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa—hingga kemacetan panjang membuat bus yang kutumpangi berhenti total.
Aku melirik jam tangan. Pukul 06.10.
“Aduh… bagaimana ini?” gumamku pelan.
Sekolahku sudah tidak terlalu jauh. Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan turun dan melanjutkan perjalanan dengan berlari kecil di tepi jalan.
Namun baru beberapa meter aku melangkah, suara benturan keras memecah pagi. Sebuah mobil yang melaju tidak stabil oleng dan menabrak pohon di pinggir jalan. Asap tipis mulai mengepul dari bagian depan kendaraan.
Jantungku berdegup kencang. Aku berlari mendekat.
Di balik kemudi, seorang pria terkulai tak sadarkan diri. Darah mengalir dari pelipisnya.
“Tolong! Tolong!” teriakku panik, memanggil warga sekitar.
Beberapa orang segera menghampiri. Bersama-sama kami mengevakuasi pria itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Aku tidak tahu mengapa aku tidak pergi setelah itu. Kakiku justru membawaku duduk di kursi samping ranjangnya, menunggu ia sadar.
POV RION
Kesadaran datang perlahan, diiringi aroma antiseptik yang menyengat. Saat membuka mata, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih dan seorang gadis remaja yang duduk di samping tempat tidurku.
“Syukurlah, Paman sudah sadar,” ucapnya lega.
Aku mengernyit. “Di mana saya?”
“Tadi mobil Paman menabrak pohon. Paman tidak sadarkan diri, jadi saya meminta bantuan warga untuk membawa Paman ke rumah sakit.”
Ingatan itu kembali—acara semalam, minuman beralkohol, dan keputusan ceroboh yang seharusnya tidak kuambil.
“Terima kasih,” kataku singkat namun tulus.
“Dokter bertanya apakah ada keluarga yang bisa dihubungi.”
“Keluarga?” Aku tersenyum hambar. “Saya tidak punya siapa-siapa.”
Wajah gadis itu berubah samar. Ada sesuatu dalam tatapannya—sebuah pengertian.
“Ternyata Paman sama seperti saya,” katanya pelan.
“Sama seperti kamu?”
“Saya juga tidak punya keluarga.”
Untuk sesaat, ruangan itu terasa lebih sunyi.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Yuna.”
Nama itu sederhana, namun terasa hangat.
Setelah kondisiku dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang, aku memutuskan mengantarnya kembali ke tempat tinggalnya—Panti Asuhan Bu Oliv.
---
Halaman panti itu bersih dan sederhana. Seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan wajah cemas.
“Yuna? Ke mana saja kamu? Guru menelepon Ibu karena kamu tidak masuk sekolah.”
“Sebenarnya Yuna tidak bersalah,” jelasku. “Ia menolong saya pagi tadi.”
Wanita itu menghela napas, lalu menatap Yuna dengan lembut namun tegas.
“Lain kali, tetap prioritaskan sekolah, ya.”
Yuna mengangguk patuh.
Setelah ia masuk ke dalam, aku menyampaikan maksud kedatanganku.
“Saya tidak hanya ingin mengantarnya pulang. Saya berniat mengadopsi Yuna.”
Bu Oliv terdiam cukup lama.
“Keputusan itu bukan di tangan saya sepenuhnya. Semua tergantung pada Yuna.”
Ketika ditanya, Yuna menunduk sesaat sebelum menjawab, “Sebenarnya Yuna ingin tetap di sini. Tapi… karena Paman juga tidak punya keluarga seperti Yuna, Yuna bersedia.”
Jawaban itu terasa sederhana, namun entah mengapa membuat dadaku menghangat.
Tak lama kemudian, Yuna keluar membawa satu koper dan tas ransel kecil.
“Ibu, Yuna pamit. Terima kasih sudah merawat Yuna selama ini.”
Bu Oliv memeluknya erat.
Kami pun meninggalkan halaman panti asuhan itu.
Di dalam mobil, sopirku bertanya, “Ke mana kita, Tuan?”
“Pulang.”
Aku menoleh pada gadis di sampingku.
“Mulai sekarang, jangan panggil saya Paman.”
Yuna menatapku, sedikit bingung.
“Panggil saya Papah.”
Ia terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan.
“Baik.”
Di luar jendela, langit sore membentang luas—seolah menjadi saksi bahwa pagi itu bukan sekadar kecelakaan.
Itu adalah awal dari sesuatu yang belum kami pahami sepenuhnya.
Berikut versi yang telah disusun ulang dengan gaya **naskah cetak penerbit**: lebih halus, naratif, dan emosional tanpa mengubah alur cerita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Mempertemukan Kami
RomanceYuna tidak pernah menyangka bahwa kecelakaan di pagi hari akan mengubah seluruh hidupnya. Dari seorang gadis panti asuhan, ia tiba-tiba menjadi putri angkat Rion William-pria kaya, dingin, dan penuh rahasia yang perlahan memberinya kehidupan yang ta...
