Pjm 01

9 1 0
                                    

Terimakasih

Park Jimin!! Tunggu, jangan pergi. Tetaplah menetap kau sangat indah untuk pergi jadi biarkan diriku melengkapi dirimu.

Tangan mungilnya sudah mengusap berulang kali keringat yang membasahi dahinya, matahari kian terik bisa ditebak jika waktu sudah menjelang siang sesungguhnya ia menunggu dengan janji pagi.

Helaan nafas pun mulai terdengar, ia lelah tapi bersikap seolah baik-baik saja dan yang diharapkan segera terwujud.

Dirinya menunduk menatap benda segiempat yang berisikan chat mereka tadi malam, segurat senyum menandakan ia bahagia dengan pilihannya walau sakit disepanjang jalannya.

Tik! Tik!
Bagai bom waktu dan kaset terputar begitu saja ia kembali ingat bagaimana seseorang mengatakan dengan jelas padanya tentang suatu perihal.

Jangan terlalu mengejarnya,
biarkan saja layaknya lagu yang
terputar dengan indah.

Mengusap lembut air mata yang menetes ia mendongak menatap langit yang cerah dirinya mulai memukul-mukul dadanya dengan berkata.

"Bodoh! Kenapa? Kenapa, kenapa... Disini kuat sekali? Tapi juga rapuh..."

Akhirnya dengan keyakinan dari hati maupun pikiran ia kembali pulang walau gundah tapi mudah, tunggu bagaimana? Mengganjal tapi lega? Atau apa ya disebutnya. Pernah mengalaminya?

Bres!
Loh? Tadi sangat terik tapi tiba-tiba saja hujan begitu deras membuatnya harus berlari cukup jauh hingga terhenti disebuah restoran kecil, hanya menumpang diluar tidak sampai masuk kedalam.

"Hah..."

Ia menyesal kenapa juga harus tampil cantik jika cantiknya hanya tadi dan tidak disaksikan oleh yang dituju, kecewa... Hah sudahlah kini hanya berharap hujan segera reda dan ia bisa pulang mengganti pakaian lalu merebahkan diri dikasurnya yang nyaman.

Dirinya menunduk menatap sepasang sepatu yang dibelikan seseorang yang begitu berarti untuknya.

"Park Jimin?" ucapnya begitu lelaki dengan setelan rapi mendekat dan menariknya masuk kedalam restoran.

"Tunggu aku disini." Jimin pergi menuju toilet dengan Reysa yang duduk dengan canggung disalah satu kursi.

Srek!
Mata Reysa beradu pandang dengan Jimin yang telah membuka kaosnya dan hanya memakai kemeja nya saja, kaos tersebut ia berikan pada Reysa untuk membersihkan dress yang mulai kotor akibat percikan air hujan diluar sana dan saat Reysa lari tentunya.

Resya begitu malu sekarang pasalnya Jimin mentraktirnya dan kini menyerahkan buku tugasnya untuk Reysa salin nanti. Tangan Reysa yang sudah memegang buku itupun hanya diam hingga Jimin berucap membuatnya mendongak dan mendengarkan.

Nasihat Jimin adalah yang terbaik dimana lelaki itu menasihati tanpa membuatnya sebagai nada merendah atau seperti menyalahkan pihak yang ia nasihati, itulah sebabnya pelabuhan paling ternyaman adalah Park Jimin.

"Mengerti?"

Ahh Reysa tidak fokus ia melamun ketika Jimin menasihatinya membuatnya hanya mengangguk kecil lalu tersenyum tipis.

Jimin menyuruh Reysa menaruh kaos tadi dibahu Reysa supaya tidak terlalu basah saat perjalanan pulang, ia juga memberikan helm nya pada Reysa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 27, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Park JiminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang