-
Setelah kejadian itu, Zava benar benar kalut. Tak sedikit diantara anak anak sekolah yang selalu menatap Zava dengan tatapan yang tidak enak. Bahkan beberapa ada yang berbisik sampai terang terangan mengatai Zava.
Bukannya apa apa, Jake dan Sunghoon itu sudah seperti most wantednya sekolah. Tak jarang orang orang selalu kagum kepada keduanya. Bukan hanya karena visual mereka, tapi juga karena bakat mereka.
Jake dengan kepintarannya dalam bidang Fisika dan Matematika. Sehingga sering menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan. Tak hanya itu, ia juga menjabat sebagai ketua Osis disekolah.
Sedangkan Sunghoon memiliki kepandaian dalam bidang olahraga yaitu skating. Bahkan nama Sunghoon sudah terdaftar menjadi seorang atlet figure skating. Sudah sangat sering juga mengikuti perlombaan dan pulang dengan membawa medali.
Keduanya sudah sejak lama berteman. Seperti yang orang orang ketahui, pertemanan mereka selalu terlihat harmonis. Jarang sekali melihat mereka saling bermusuhan.
Makanya semua orang memiliki pandangan yang buruk terhadap Zava. Seolah olah Zava lah yang sudah membuat kerusakan dalam hubungan Jake dan Sunghoon.
Padahal kejadian itu sudah dua hari berlalu. Namun tetap saja tatapan tatapan itu masih belum terlepas dari atensi Zava yang seolah olah tak diinginkan.
Zava mengeratkan pegangannya pada tas kecil yang ia bawa dengan berjalan menunduk. Merasa takut dengan tatapan tatapan orang orang disekitarnya.
"Itu ya yang namanya Zava?"
"Anjing cakep dia kayak begitu?"
"Gila emang padahal Jake sama Sunghoon selama ini akur akur aja"
"Gara gara dia tuh mereka jadi berantem"
Rasanya Zava ingin lari sejak itu juga. Namun kakinya terasa sangat lemas. Ia tidak memiliki tenaga untuk berlari.
"Hah serius yang itu?"
"Iya anjing. Waktu itu bahkan ada foto dia di blur di postingan hybeinfo. Tapi dihapus lagi"
"Dia bayar gaksih biar gak kesebar rumornya?"
Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Dengan cepat ia berjalan menuju kelas. Masih dengan kepala yang tertunduk dan mata yang memburam.
Duk!
Zava mendongakan kepalanya kala ia merasa menabrak seseorang.
"Kenapa nangis?"
Zava menggeleng dan berusaha untuk tersenyum "Pagi Kak. Saya permisi ke kelas dulu"
Baru saja Zava hendak melangkah, pundaknya ditarik paksa hingga ia tak bisa pergi dan terhuyung ke bawah. Sudah bisa tebak kan siapa oknum yang melakukan hal itu?
"Masih berani ya lo ke sekolah?"
Winter berjongkok, meraih dagu Zava dan mengangkatnya. Sedangkan Zava hanya bisa menangis di tempatnya.
"Kalo gue jadi lo, gue gak akan berani ke sekolah. Karena udah ngehancurin hubungan pertemanan seseorang"
Zava menggigit bibir bawahnya. Tangannya meremat ujung roknya, menahan dirinya agar tak terlarut dalam emosi.
Samar samar Zava melihat ke sekeliling. Tak ada yang terlihat peduli dengan perlakuan Winter padanya saat ini. Yang ia bisa lakukan hanyalah diam pasrah sampai Winter selesai dengan urusannya.
"Asal lo tau aja ya. Selama ini gue selalu liat Jake sama Sunghoon tuh akur. Tapi semenjak lo ada" Winter tertawa kecil "Mereka jadi lebih senggang"
Winter menepis tangannya dari dagu Zava "Pantes aja waktu itu gue ngerasa ada yang aneh sama mereka. Taunya gara gara lo ya? Hahahaha. Bisa bisanya Jake sama Sunghoon rebutan cewek murahan kayak lo"
"BANGSAT!"
Bukan, bukan Zava yang teriak kata kata kasar itu. Semua pandangan siswa termasuk Winter dan Zava berpindah pada seseorang yang tak jauh dari posisi mereka.
Heeseung kini terlihat sangat marah. Bahkan Zava sebelumnya belum pernah melihat Heeseung yang tersulut emosi sampai badannya bergetar.
Dengan cepat Heeseung berjalan menuju adiknya itu, membawa Zava untuk berdiri.
"Kamu gapapa?"
Zava mengangguk pelan. Sebenarnya ia benar benar merasa kacau. Namun tatapan penuh amarah sang Kakak membuatnya sedikit takut karena Heeseung bisa meledak kapan saja.
Winter yang melihat itu lantas tersenyum sarkas dan menepuk tangannya "Bagus. Lo banyak caper ke cowok cowok famous ya ternyata?"
Heeseung memindahkan pandangannya pada Winter "Diem lo anjing"
"Wow.." Winter melihat ke sekeliling "Kalian liat? Seorang Heeseung ngomong kasar loh. Pasti gara gara cewek ini kan?"
Tangan Heeseung terangkat, siap untuk melayangkan tamparan pada Winter. Untungnya Zava sudah dengan cepat menahan Heeseung agar hal itu tidak terjadi.
"Udah Kak udah!" Teriak Zava "Tolong jangan terlalu tersulut emosi. Kakak bisa aja ngelakuin sesuatu diluar batasan"
Heeseung menghela napasnya kasar. Dengan cepat ia menepis tangan Zava dan melihat ke arah sekitar.
"Siapapun yang berani ngebully Zava, berurusannya sama gue!" Teriak Heeseung
"Cih, jadi pahlawan kesiangan lo? Yakali cewek kayak dia dilindungin"
Heeseung lantas memindahkan pandangannya pada Winter "Sekali lagi gue tekankan. Siapapun yang masih berani ngata ngatain atau ngebully Zava, adik gue."
Heeseung menjeda kalimatnya dan melihat reaksi Winter yang kebingungan. Bahkan beberapa orang yang ada disanapun terkejut atas pengakuan itu.
"Berurusan sama gue" lanjut Heeseung
Lantas Heeseung menarik tangan Zava agar keluar dari kerumunan itu. Meninggalkan orang orang yang masih terkejut dengan fakta bahwa Zava adalah adik dari Heeseung.
Winter mematung, menatap Heeseung dan Zava yang semakin lama semakin menjauh. Selama ini ia berurusan dengan orang yang salah.
-
Rame juga ternyata bikin bentuk narasi xixixi ( ͡° ͜ʖ ͡°)
KAMU SEDANG MEMBACA
Chat - Jake Sim - [✓]
Fanfiction"Pokoknya gue bakal dapetin Kakak itu gimanapun caranya." . . . . Chat - Jake Sim - Start: 30 - 08 - 2021 Finish: 15 - 12 - 2021
![Chat - Jake Sim - [✓]](https://img.wattpad.com/cover/283392962-64-k270395.jpg)