2. First Day

78 3 0
                                    

Everybody needs inspiration
Everybody needs a song

~~~

Hari masih gelap saat mereka tiba di London. Fajar belum mau menunjukkan cahayanya. Perjalanan menuju ke hostel yang telah disediakan oleh pihak perlombaan terasa sangat lama. Kelima sahabat tersebut masih merasa lelah meskipun mereka telah istirahat cukup lama di dalam pesawat. Beruntungnya mereka, masih ada waktu yang cukup lama sebelum ajang International Western Cover Dance dimulai. Mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk berlatih cover dance dan berkeliling London.

Rencananya mereka semua termasuk manager mereka akan berkeliling London saat pagi tiba. Maka dari itu mereka memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin untuk tidur sejenak atau membersihkan diri dan menikmati pemandangan pagi kota London.

~~~

Keenam orang tersebut berjalan menuju lobby hostel tempat mereka menginap. Mereka memutuskan untuk sarapan pagi di luar area hostel.

So, where are we going now?” tanya Ivy sambil memasukkan Iphone-nya ke dalam tas kecil yang ia bawa. Ivy sering berbicara dalam bahasa Inggris karena dia memang blasteran. Ayahnya orang Kanada sedangkan ibunya orang Indonesia asli.

“Ya sarapan, lah. Gue laper banget. Dari kemaren pas kita lepas landas sampe sekarang gue cuma ngemil doang.” Risa memegang perutnya dengan kedua tangannya sambil menunjukkan ekspresi memelas.

“Ya maksudnya sarapan dimana, Ris? Katanya mau makan di luar.” Keya tau betul sifat Risa. Bukannya ngasih solusi dia malah curhat colongan.

Felicia menjentikkan jarinya tanda dia sudah mendapatkan ide. “Nah, gue ketemu tempat makan yang bisa dibilang... lumayan, lah. Barusan gue browsing tempat makan terdekat dari sini. Cheese ‘n Chips. Tempat makan sejenis McDonalds gitu. Mau gak?” Felicia menunjukkan informasi yang ia dapatkan tentang restoran tersebut dari Iphone-nya kepada yang lain.

“Boleh tuh. Mending kita buruan. Gue juga udah laper soalnya.” Keya nyengir ke arah teman-temannya.

Shilla mengeluh kepada yang lainnya, “Yahh, gak ada nasinya ya? Kenapa coba harus diganti sama kentang?”

“Orang sini kan gak biasa makan nasi, Shil. Lagian makan pake kentang juga kenyang kok. Udahlah gak usah ngambek.” Ivy merangkul pundak Shilla sambil tersenyum menenangkan. “Oh iya, Fel, dimana restorannya?” lanjut Ivy.

“Gak jauh dari sini kok. Nanti gue tunjukin arahnya.”

“Sip deh.” Risa melirik Lia yang sedari tadi diam. “Diem aja, Li? Gak mau komentar?” Risa tertawa atas perkataannya sendiri.

“Ah lo mah selalu ngomong gitu tiap kali gue diem. Udah ah mending kita buruan jalan, gue juga udah laper soalnya.” Lia menjawab pertanyaan Risa sambil cemberut. “Kita naik apa ke sana, Fel?”

“Jalan kaki sebentar juga udah sampe.”

~~~

“Itu kan tempatnya, Fel?” tanya Lia yang berjalan paling depan diantara mereka.

“Iya bener itu tempatnya. Ayo ke sana.” Timpal Felicia.

Mereka semua berjalan ke arah restoran tersebut.

“Buru-buru banget sih, Li. Gue yang laper banget aja biasa aja.” Tegur Risa sambil tertawa mengejek.

Lia berbalik badan ke arah belakang. “Ya gak papa, Ris. Laper aja.” Timpal Lia sambil berjalan mundur.

“Awas, Li. Di belakang lo!” teriak Keya tepat saat Lia berbalik badan dan menabrak seorang pria yang kelihatannya umurnya tidak jauh berbeda dengan mereka.

Lia langsung shock dan langsung berkata, “Oh my... sorry, sir. I didn’t mean to do it.

Pria yang cukup tampan dan berwajah Asia itu terkekeh pelan. “It’s no problem. Just a little trivial thing in case.

Once again, i really am sorry, sir.” Lia sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf.

Hey, it’s okay. Don’t be too sorry. And, for your information, i’m not as old as it is for you to call me ‘sir’.” Pria itu tertawa pelan lagi sebagai balasannya. Memang pria yang ramah. “Anyway, i’ll go first, okay? Bye, miss.

Pria itu melangkah ke depan restoran dengan santai.

Sorry, sir.” Teriak Lia sekali lagi saat pria itu mulai menjauh.

No problem.” Balas pria itu dengan teriak juga.

~~~

So, habis ini kita mau kemana?” tanya Keya sebelum menyuap makanannya.

“Jalan-jalan aja yuk. Bosen nih.” Timpal Shilla.

“Kita sih ikut aja. Ya gak?” tanya Risa kepada yang lain. Yang lainnya hanya mengangguk tanda setuju.

Felicia tiba-tiba bicara, “Oh iya, kalian semua udah pada nemu dance buat nanti kalian tampil belum?”

“Gue sih udah nemu beberapa referensi buat dance kita nanti. Yang lain gimana?” tanya Lia.

“Gue juga udah nemu beberapa dance yang bagus buat kita tampil nanti. Tinggal dipilih aja mau pake yang mana.” Timpal Ivy.

“Ya udah deh kita liat nanti aja.” Putus Felicia akhirnya.

~~~

Sisa hari itu mereka habiskan dengan keliling di sekitar kota London. Mereka pergi ke Tower of London, Big Ben, Westfield Stratford City, Oxford Street, naik London Eye dan menikmati pemandangan sungai Thames di sore hari, dan masih banyak lagi.

“Udah mulai gelap nih. Kalian mau langsung pulang atau mau ikut gue? Tadi gue sempet browsing cafe terkenal di sekitar sini. Gue mau ke sana.”

“Kita mau pulang aja deh. Udah capek banget habis jalan-jalan.” Kata Ivy dengan wajah lelahnya.

“Ya udah kalo gitu.”

“Tapi lo gak papa sendirian? Nanti pulangnya gimana? Mau gue temenin?” timpal Risa.

“Gak usah juga gak papa kok. Nanti kalo mau pulang ya tinggal liat GPS.” Jawab Lia sambil tersenyum.

“Ya udah kalo gitu kita duluan ya. Bye, Lia. Be careful.”

“Bye.”

Mereka berjalan menuju arah yang berlawanan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka nantinya. Tidak ada yang pernah bisa menebak masa depan.

When I Look At YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang