20

2.1K 118 7
                                        

Mark memangku dagunya dengan tangannya, menatap Chenle yang bermain di dapur bersama dengan Haechan. Mark akui sejak pernikahannya Mark merasa hari-harinya terlalu melelahkan, tidak mengherankan karena Mark yang tetap harus ke kantor mengurus perusahaannya dan dirumah mengurus Chenle.

Mark tau seharusnya bukan dia yang mengurus Chenle 24 jam, tapi apa yang bisa Mark buat, Jaemin terlalu sibuk, mengurusi kerajaan yang berpengaruh pada negaranya dan Korea tentunya, karena itu Mark selalu mengalah, walaupun sebenarnya Mark juga ingin Jaemin juga ikut andil dalam membesarkan Chenle.

Kemudian, Mark sadar, ia tidak pernah melihat putranya tersenyum dan tertawa seperti itu. Mark itu tidak pintar dalam mendekatkan diri kepada anak-anak, ia bukanlah ayah yang galak dan pemarah, Mark bahkan adalah orang yang tidak mudah marah, hanya saja Mark terlalu kaku kepada anak kecil, karena itu Chenle selama ini terlihat murung.

Belum lagi, Chenle itu sangat takut dengan Jaemin, karena pada faktanya Chenle adalah pangeran dan ia yang akan melanjutkan kekuasaan papinya, karena itu setiap kali bertemu, alih-alih bermain dengan Chenle, Jaemin menyuruhnya belajar, belum lagi Jaemin sangat berambisi agar putranya itu menjadi penerus nantinya karena itu ia sedikit keras dalam mendidik Chenle.

Melihat Chenle yang tersenyum lebar pada Haechan, padahal mereka hanya saling menatap, entah kenapa membuat hati Mark menghangat. Mark akui semenjak ia menikah dan memiliki anak, Mark merasa rumah tangganya sangat tidak harmonis.

" Ayah!"

.

.

.

Anda dapat membaca kelanjutan ceritanya melalui tautan berikut:


karyakarsa.com/uries


😊🙏


Terima kasih atas dukungannya!

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 18, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

[Complete] Replaced || MarkhyuckWhere stories live. Discover now