[🔞] Tak kamu sangka, Broadcast Jockey terkenal berinisial JK selama ini adalah adik tirimu yang baru memasuki usia legal. JK, berasal dari singkatan nama JAKE yang sangat polos namun menawarkan banyak sekali konten berbau dewasa yang tidak sesuai d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejujurnya, ini kali pertamaku memasuki kamar Jake yang berada tepat di samping kamarku. Kamar Jake lebih luas ketimbang kamarku, dengan perabotan yang tak kalah mewah dari perabotan di dalam kamarku, namun yang begitu menarik perhatianku adalah kamar ini memang sebuah gambaran set yang sebenarnya dari video seorang live streamer porno bernama JK. Ya, ternyata adik tiriku ini memang sosok asli dari live streamer bernama JK itu sesungguhnya. Walau harus ku desak terlebih dahulu agar ia mau mengaku, akhirnya Jake mengalah atas rasa malu yang ia rasakan dan mengajakku masuk ke dalam kamar miliknya yang selalu terkunci. Bahkan, ibu kandungnya sendiri tak pernah masuk ke dalam kamar lelaki itu.
Terdapat satu set kamera beserta lighting dan berbagai perlengkapan untuk menunjang kegiatan live streamingnya seperti pelumas, kondom dan dildo. Tunggu dulu, dildo?
"Nuna puas? Sekarang, identitas asliku sudah terbongkar!" tanya Jake sembari mendudukkan dirinya di sofa kamar dalam keadaan melipat tangan di depan dada sambil menatap ke arahku penuh kekesalan. Aku perhatikan satu per satu perlengkapan live streaming lelaki itu sampai aku menemukan sebuah foto wanita yang aku duga menjadi bahan untuk fantasinya selama ini. Foto yang sangat aku kenal, sampai membuat Jake kalang kabut saat aku ingin mengambil foto tersebut. Ia sembunyikan fotonya di belakang tubuh Jake, membuatku tertawa pelan.
Sungguh aneh kehidupan ini, aku masturbasi menggunakan live streaming yang ternyata yang dijalankan oleh adik tiriku sendiri, lalu ia menggunakan sosokku sebagai khayalan liar untuknya melakukan onani sebagai bahan live streamingnya? Sungguh gilanya dunia persaudaraan tiri ini.
Aku usap wajahku dengan kasar, tak tahu lagi harus merespon seperti apa dan bagaimana? Yang jelas, aku sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya dengan kenyataan ini. Aku ingin marah tapi dia adalah sosok yang aku gemari selama ini, desahan, perkataan bahkan posture tubuhnya sangat aku sukai, namun kenyataan sepertinya lebih menakutkan ketimbang konten yang ia berikan pada penonton setianya.
Aku dudukkan diri di sofa kamar Jake, masih tertawa pelan sebagai respon semua kenyataan yang terungkap hingga aku rasakan Jake yang duduk tepat di sebelahku. Ia mainkan tangannya dengan begitu gugup seraya meminta padaku, "Jangan beritahu mommy, nuna. Aku bisa habis dibunuhnya jika semua kenyataan ini terungkap." ujar lelaki itu, malah semakin memecah tawaku.
"Aku pikir, kau memang anak yang baik dan polos, Jake. Tapi ternyata.." aku sengaja menggantung ucapan ku agar membuat Jake semakin merasa bersalah atas segala kenakalan yang telah ia perbuat. Sampai menyiarkan kegiatan mansturbasi merupakan tindakan yang diluar batas, bahkan sampai mendapatkan uang yang banyak dari kegiatan itu seolah tak malu tubuhnya menjadi konsumsi banyak orang. Ternyata, aku memang tak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Lihatlah, Jake yang terlihat polos nan suci ini ternyata menyimpan rahasia yang sangat kelam sampai membuatku tak tahu harus berkata apa.
"Nuna, maafkan aku. Aku pasti membuatmu kecewa-" ucapan Jake itu langsung ku potong dengan mengucapkan, "Sangat!". Membuat Jake kembali terdiam sambil menundukkan wajahnya guna memainkan jemari tangannya. Aku pun beranikan diri bertanya tentang, "Kok ada foto nuna di kamarmu?" tanyaku semakin membuat Jake tak nyaman. Ia ambil foto milikku yang sebelumnya telah ia sembunyikan lalu memberikannya padaku, "Ini, a-aku tak sengaja menemukannya di ruang tengah, karena-"
"Bukan kau jadikan sebagai bahan mansturbasimu kan?" tanyaku sukses menempatkan Jake dalam posisi gugup tak terkendali hingga membuat napasnya terhenti beberapa detik. Ia menatapku tak percaya kemudian mengalihkannya karena merasa begitu gugup. "Ti-tidak nunaa.." bahkan bibirnya bergetar saat mengucapkan itu sebagai jawaban.
Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, aku mendekat ke arah wajah lelaki itu kemudian berkata, "Mommy, apakah itu panggilan untukku atau ibu kandungmu?" tanyaku yang tanpa sadar dijawab, "Nuna!" oleh Jake, namun begitu spontan yang membuatnya merasa malu atas ucapannya.
Refleks, aku tertawa kencang lalu menggenggam tangan lelaki yang duduk di sampingku tersebut. "Berarti fiks ya, kamu gunakan nuna sebagai bahan fantasi untuk video live streamingmu." ucapku yang tidak Jake setujui begitu saja. Ia menoleh ke arahku lalu berkata, "Ti-tidak nuna.." tapi ia juga tak mau menjelaskan yang sesungguhnya. Membuatku bingung sehingga berniat memastikannya sendiri dengan membawa wajah lelaki itu agar menoleh ke arahku, aku elus permukaan wajah Jake guna mengajaknya saling bertukar tatapan dengan mata indah yang menyiratkan sinar kegembiraan, walau sedikit tertutupi oleh kegugupan yang ia rasakan. Sengaja, aku bawa wajahku semakin mendekat padanya, sangat dekat hingga dapat ku rasakan hembusan napas Jake yang terasa menerpa kulitku. Membuat gerakan seolah ingin mencium bibirnya, seiring mata Jake yang terpejam seolah menungguku memulai interaksi intim ini. Aku perhatikan ekspresi wajah Jake yang menyiratkan kegugupan, namun aku tahu ia sangat tak sabar untuk merasakan bibirku. Lelaki itu balik menggenggam sebelah tanganku yang membuatku tersenyum tipis dan tak sengaja menyentuh hidung lelaki itu menggunakan hidungku sendiri.
Langsung aku dapatkan respon tubuhnya yang bergejolak, seolah menyukai sentuhan di hidung kami dengan desahan pelan dan tubuh yang menegang hebat. Kini, aku yakin kalau semua pertanyaan itu memanglah sebuah kebenaran. Jake, memang menggunakan ku sebagai fantasi terliar nya. Sial, tubuhku ikut bereaksi aneh di buatnya.
"Tidurlah, kau besok masuk sekolah pagi kan?" ucapku, langsung bangkit dari sofa tersebut dan mengusap puncak kepala Jake dengan lembut. Setelah mengatakan itu, aku keluar dari kamar lelaki itu namun sengaja tidak menutup rapat pintu kamarnya. Aku ingin melihat dengan jelas reaksi Jake selepas aku pergi.
Jake acak rambutnya kasar lalu mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya sendiri. Ia sandarkan tubuhnya pada sofa tersebut yang membuatku sadar kalau ada yang bangun dari tubuhnya. Jake juga merutuki hal tersebut dengan memukul pelan area selangkangannya sambil merutuk, "Kenapa kau bangun? Nuna bahkan tak menciumku!!" ucap Jake yang langsung aku pahami maksud ucapannya. Aku senderkan tubuhku pada tembok ruangan. Aku pejamkan mataku sendiri hingga aku merasakan panas pula di sekujur tubuhku.
Tidak, Y/n harusnya kamu merasa kecewa dan marah dengan terungkapnya kenyataan ini, tapi kenapa kau malah terlihat suka dan tak keberatan hal itu terjadi pada adik tirimu, sadarlah! ucapku dalam hati sambil menampar wajahku sendiri.
Dapat ku dengar samar desahan lembut khas seorang JK dari dalam kamar Jake. Memaksaku untuk mengintip sesaat dan benar dugaan ku sebelumnya. Jake kembali melakukan itu seraya memejamkan matanya sendiri. Langsung aku tutup pintu lelaki itu hingga menimbulkan suara dan berlari memasuki kamarku. Aku acak rambutku sendiri lalu mematikan lampu kamar tidurku. Aku matikan juga segala macam sumber suara agar dapat mendengarkan desahan Jake di kamar sebelah. Namun, tak terdengar apapun yang membuatku sedikit frustasi.
Aku ambil handphone milikku yang masih tersambung earphone, lalu membuka aplikasi AMEERA TV untuk berkunjung ke channel lelaki itu lagi, aku baringkan tubuhku seiring desahan pelan yang tanpa sadar terlontar dari bibirku. Sialan, aku rasa aku harus menuntaskannya juga!