Kepergian Krist keluar negri memakan waktu 2 minggu. Krist mendesah lega saat pesawatnya mulai landing, satu persatu penumpang di kelas bisnis mulai keluar termasuk Krist dan Patt. Krist langsung menghidupkan ponselnya, selama dua minggu ini dia terus menghubungi Singto namun tak pernah di angkat oleh Singto, ia mengirimkan pesan juga tak di balas hanya di baca saja, Krist sampai kesal di buatnya, baru Singto yang berani menolak dan mengabaikannya, jika itu pria lain Krist tak yakin akan sesulit itu.
Patt pamit untuk pulang lebih dulu kepada Krist karna jemputannya sudah datang sedangkan Krist masih duduk di sekitar bandara menunggu taxi yang ia pesan tiba. Lagi dan lagi ia melihat Singto dan kekasihnya yang sedang berjalan, Singto terlihat sangat manja pada kekasihnya membuat Krist meremas tangannya sendiri.
Tunggu... Apa dia cemburu? Tidak... Krist hanya sedikit kesal, dia menginginkan Singto jadi miliknya karna ia suka dengan sifat nakal Singto saat mereka melakukan seks bukan karna jatuh hati padanya, ia hanya menyukai Singto karna sifat liarnya, Krist menekankan itu di dalam hatinya.
Krist mencoba untuk menghubungi Singto, ia melihat Singto hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat untuk mengangkat panggilannya, Singto bahkan dengan berani mematikan ponselnya sekarang.
"Kenapa di matikan?" Tanya Natt.
"Tidak penting, Phi. Bagaimana pekerjaan Phi di sana?" Ucap Singto.
"Berjalan dengan lancar." Ucap Natt.
"Nanti malam menginap di rumah ku." Ucap Singto, dia sangat merindukan belaian Natt sekarang.
"Sepertinya tak bisa, pekerjaan ku masih sangat banyak, tunggu aku sedikit senggang aku akan meluangkan waktu ku untuk mu." Ucap Natt.
Singto hanya terdiam mendengarnya, akhir-akhir ini kekasihnya selalu sibuk dengan urusannya sendiri tanpa memikirkan dirinya, entah sampai kapan dia harus mencoba mengerti Natt.
"Aku ke toilet sebentar." Ucap Singto.
Singto langsung beranjak pergi dari sana dan berjalan menuju toilet, air mata yang di tahannya sejak tadi langsung menetes membasahi pipinya setelah dia masuk ke dalam bilik toilet. Singto menangis bersandar di dinding toilet, meluapkan semua emosinya. Setelah puas menangis, Singto mencuci wajahnya kemudian membuka pintu hendak keluar namun ia malah di kejutkan dengan kehadiran Krist.
"Om." Ucap Singto.
"Kenapa tak pernah mengangkat panggilan ku!" Ucap Krist.
"Bukankah sudah ku katakan aku sudah mempunyai kekasih!" Ucap Singto.
"Itu bukan alasan." Ucap Krist.
"Aku hanya malas mengangkat panggilan dari orang yang tak ku kenal." Ucap Singto sinis.
"Itu juga bukan alasan." Ucap Krist.
"Jadi om ingin alasan apa?!" Ucap Singto dengan sedikit meninggikan suaranya.
Bukannya takut Krist malah hampir tertawa, bagaimana tidak, mata Singto sedikit membengkak setelah menangis di tambah wajahnya yang memerah, dan jangan lupakan pipinya yang bulat itu membuatnya bertambah manis, Krist menjadi tak kuasa menahan gairah sekarang.
"Bibir ini tak pantas untuk berkata kasar." Ucap Krist sembari mengusap bibir merah Singto.
Krist memainkan jarinya di bibir Singto, memasukan ibu jarinya ke celah bibir Singto dan langsung di lahap begitu saja oleh Singto, Krist mendorong Singto perlahan hingga bersandar ke dinding kemudian menutup pintu toilet sedangkan Singto memejamkan matanya melumat ibu jari Krist, menghisap dan menjilatnya seperti ia menghisap permen, Krist mengganti ibu jarinya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, ia benar-benar menikmati pemandangan indah di hadapannya, wajah manis Singto dengan mata yang terpejam memainkan dua jari Krist menggunakan lidahnya, Krist membayangkan Singto sedang mengoral penisnya sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mine
FanficPertemuan tak sengaja Krist dengan seorang pria manis di club membuatnya selalu memikirkan pria tersebut dan rasa ingin memiliki semakin besar saat mengetahui jika pria itu sangat sesuai dengan kriteria kekasih idamannya. *Top Krist, Bot Sing, M-pre...