Part 1

307 16 5
                                    

~Someone POV~

"Kenapa hidupku terasa begitu sulit, apa salahku?"

"Apakah aku yang meminta terlahir seperti ini?"

"Apakah aku yang memilih untuk dilahirkan dari keluarga ini?"

"Apakah aku juga yang harus menerima semua kesalahan mereka?"

"Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, mungkinkah ini saatnya."

Slepp... aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku melihat tangannya mengambil pisau tersebut dari tanganku. Dengan cepat Ia melemparkan pisau tersebut ke sudut ruangan itu.

*******

~Jack POV~

Aku seorang laki-laki berumur 27 tahun. Aku bekerja sebagai guru di sebuah desa yang ada di sebuah pulau kecil tempat tinggalku sekarang. Aku sangat bahagia bisa tinggal disini. Terlebih keadaan di desa ini sangatlah kontras dengan kondisi di salah satu kota besar tempat tinggalku dahulu.

Desa ini pun sangat indah dengan keadaan alam yang sangat asri dan hijau. Ada banyak pepohonan yang besar nan tinggi tumbuh dengan bebasnya disini. Udaranya pun begitu sejuk dan tidak tercemar dari polusi asap, karena memang kendaraan bermotor di sini sangatlah jarang.

Jarak desa ini ke pusat kota pun sangatlah jauh harus melalui jalur laut dengan menggunakan kapal besar yang datang setiap tiga hari sekali. Kebanyakan penduduk desa ini bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka pergi bekerja ke ladang dan laut dengan berjalan kaki karena memang pulau ini tidak begitu besar.

Desa ini pun juga memiliki sungai dengan air yang jernih dan sangat menyegarkan. Di pulau ini juga terdapat deretan pegunungan yang semakin menambah keindahan pulau ini. Terlebih lagi penduduk desa ini pun sangat ramah dan begitu sopan. Mereka tidak sungkan untuk saling menyapa satu sama lain.

Tak terasa sudah cukup lama aku tinggal di desa ini mungkin sudah sekitar enam bulanan.

Aku mengajar di satu-satunya SMA Negeri di desa tersebut. Aku tinggal di sebuah rumah sederhana yang jaraknya tidak begitu jauh dengan sekolah tempatku mengajar. Cukup dengan berjalan kaki saja aku sudah bisa sampai kesekolah itu.

Dalam hal pendidikan memang sangat miris keadaan di desa ini. Dimana keadaan sekolahnya sangatlah jauh dari kata layak, sebab sekolah tersebut dindingnya terbuat dari kayu yang mulai rapuh. Atap sekolahnya hanya ditutupi dengan seng saja dan ruang disekolah itu pun hanya terdiri dari tiga ruang, satu ruang sebagai ruang guru dan dua ruang lainnya digunakan sebagai kelas.

Guru yang mengajar di sekolah ini pun hanya ada empat orang termasuk aku. Yang lebih mirisnya lagi remaja di sini yang seharusnya masih bersekolah malah memilih untuk tidak mau bersekolah lagi. Ada banyak alasan yang keluar dari mulut mereka. Banyak yang berpikir untuk apa bersekolah karena ujung-ujungnya jadi petani atau nelayan juga. Ada juga alasan karena keterbatasan biaya, untuk makan sehari-hari saja sulit apalagi untuk bersekolah.

Padahal biaya yang digunakan hanya untuk membeli buku pelajaran saja, karena di SMA itu tidak ada biaya bulanannya.

Kerjaan mereka yang tidak bersekolah tersebut pun tak lain tak bukan hanya membantu orang tuanya bekerja di ladang ataupun mencari ikan dilaut.

Setiap harinya kecuali hari minggu aku mengajar di SMA tersebut. Siswa yang kuajar hanya lima orang. Dari kelima anak itu ada dua anak berasal dari keluarga petani. Satu anak lagi merupakan anak dari seorang nelayan yang ibunya telah meninggal. Dua anak lagi adalah saudara kembar laki-laki dan perempuan. Mereka berlima masih bersekolah karena keinginan mereka masing-masing. Bahkan si kembar melawan perintah orang tuanya, yang menyuruh mereka untuk berhenti sekolah.

Baby GoodbyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang