HAPPY READING ♡
Jika ada kesalahan kata atau ketikan, mohon di koreksi melalui kolom komentar 🙏
Pernahkah kalian melihat seseorang yang selalu tertawa dan tersenyum setiap harinya, seolah olah hidupnya berjalan mulus tanpa beban?. Kebanyakan orang setiap melihat hal tersebut akan selalu berpikir "enak ya jadi dia" tapi pernahkah kalian berpikir "seberapa besar luka yang sedang ia sembunyikan?"
-Gianina elena-
Sejak kecil, aku sangat asing dengan kalimat "mengungkapkan perasaan." Aku tak pernah benar benar mengatakan bahwa aku sedang {sedih, senang, takut atau bahkan marah}. Aku menelan semuanya sendirian. Setiap aku berusaha menarik napas dengan benar, rasanya aku tak pernah benar benar bisa bernapas lega. Rasanya seperti aku tenggalam dalam samudra yang luas, tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.
Setiap aku mencoba mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada orang yang ku percaya, dan berharap mereka bisa mengerti. Namun, aku lupa bahwa dunia ini terlalu kejam dan penuh dengan penilaian. Mereka bilang aku kurang bersyukur dengan hidupku dan terlalu banyak mengeluh dan terlalu dramatis terhadap hidup ini. Seolah rasa sakitku ini tidak berarti, seakan tak seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain.
Pencapaianku selalu dianggap tidak berharga, tetapi kegagalanlu selalu dicela. Keberhasilanku selalu dibanding bandingkan dengan keberhasilan orang lain, seolah olah aku belum bisa mengalahkannya. Apakah sangat sulit untuk mengapresiasi diriku sedikit saja? Aku hanya ingin tumbuh dengan sedikit apresiasi dan perhatian, apakah itu sangat sulit untuk di dapatkan? Berapa harga yang harus ku bayar untuk mendapatkan hal tersebut?.
Sejak itu, aku mulai meragukan perjuanganku, seolah aku tak pernah melakukan apapun dengan baik. Sudah lama sekali sejak aku merasakan hidup, sejak aku membiarkan diriku merasakan semuanya sepenuh hati.
~•~
"Woy, pr mtk udah siap belum?" Suara nyaring Layla membuat Gia tersentak dari tidurnya.
"Hah? Emang ada pr?" Balas Gia dengan wajah setengah sadar.
"Sejak kapan seorang Gia bisa lupa kalau hari ini ada pr? Bahkan sekarang udah bisa tidur di kelas, siapa yang ngajarin hah?" Omel Layla
"Lu" jawab Gia lalu melanjutkan tidurnya.
Dari dulu, Gia merupakan anak yang males berbaur dengan banyak orang. Ia memilih untuk berteman dengan orang yang selalu itu itu saja daripada harus berkenalan dengan orang baru. Untung saja ada anak ekstrovet yang memungutnya yaitu Layla.
Gia tidak pernah percaya diri, ia selalu merasa kurang. Bahkan untuk menjawab pertanyaan pertanyaan random guru di depan kelas saja ia tidak berani. Meskipun Gia di pungut anak ekstrovet, ia memiliki satu teman kelas yang sudah ia kenali sejak kelas 10 yaitu Naya, hanya saja karena mereka tidak duduk bersama membuat Gia sulit berkomunikasi dengan Naya saat pembelajaran.
Gia selalu takut saat masuk kedalam kelas tersebut, takut melakukan kesalahan ataupun takut dibicarakan orang. Setiap ada orang yang tertawa dan tidak sengaja melihat kearahnya, Gia selalu merasa orang tersebut menertawakannya, dan di saat ia tampil di depan kelas untuk presentasi lalu melakukan 1 kesalahan, Gia selalu berpikir orang orang akan membicarakan dan menertawakannya di belakang. Itulah yang membuat Gia enggan untuk bergabung dengan anak anak yang lain.
Menurut Gia, itu hanyalah karena sifat pemalunya. Jadi, ia tak pernah terlalu menghiraukan hal tersebut.
Di saat kesulitan di kelas, Gia tidak berani untuk meminta bantuan anak anak di kelasnya, paling paling mentok minta tolong ke Layla atau nggak ke Naya. Kalau mereka berdua libur Gia hanya bisa terdiam dan berusaha sendiri. Ia takut jika ia meminta bantuan anak anak kelas, mereka akan risih oleh permintaannya.
"Bangun woy bangun, ini serius lu ngga ngerjain pr mtk?" Layla menggoyang goyangkan badan Gia.
"Orang nggak ngerti gimana mau ngerjain" jawab Gia tanpa menatap ke arah Layla sedikitpun.
"Truss ini kita ngga ngerjain gitu? Katanya kalau ngga ngerjain ngga bisa ikut ulangan harian" rengek Layla.
Gia menenggak badannya yang sebelumnya terkapar di atas meja, ia melihat ke arah sekitar.
Gia menatap ke arah meja sudut kanan, lalu ia menghampiri seseorang yang sedang duduk di sana.
"Kamu udah siap pr mtk? Boleh ajarin caranya nggak?" Ucap Gia kepada siswa tersebut.
"Aku belum siap" jawab siswa tersebut dengan judes lalu beranjak dari kursinya meninggalkan Gia.
Gia hanya terdiam mendengar jawaban teman sekelasnya tersebut lalu kembali ketempat duduknya. Tak selang beberapa menit Gia melihat teman sekelasnya tersebut mengumpulkan buku tugasnya diatas meja guru.
Gia makin sadar, bahwa tak seharusnya ia memberanikan diri meminta tolong kepada orang orang di kelasnya. Gia hanya diam alih alih marah kepada teman sekelasnya itu.
Tak tau harus minta tolong kepada siapa lagi, Gia mengambil hpnya dari dalam laci meja dan mengirim pesan kepada seseorang. Tak butuh waktu lama Gia berhasil mendapatkan jawaban untuk pr mtk nya tersebut dari seseorang yang ia hubungi dari ponselnya tersebut.
Melihat Gia mengerjakan pr mtk tersebut, Layla langsung mengambil buku pr nya dan menyalin pr Gia tanpa berkutik sedikitpun ataupun bertanya dari mana jawaban itu Gia dapatkan. Sekarang sumber jawaban bukanah hal yang penting bagi Layla, tetapi yang penting siap.
Gia dan Layla pun mengumpulkan pr mereka di atas meja guru, dan Gia memilih melanjutkan tidur nya sedangkan Layla memilih untuk melanjutkan gosipnya dengan anak anak kelas.
To be continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Old Tree
Teen Fiction"Aku melihatmu, seperti pohon tua yang akarnya mencengkeram bumi. Menjaga orang orang di bawah rindangnya." -Gianina elena- "as beautiful as the moon at night and shining like a star describes you who is always in my mind." -Agha Syaron Daneswara- "...
