Chaeyoung perlahan terbangun dari lelapnya, merasakan sisi kosong ketika satu tangannya merasakannya. Melirik ke sekelilingnya sembari berhela karena dirinya kembali terbangun sendirian. Namun kali ini, ia terbangun di kamar milik Jungkook.
Pandangannya beralih untuk menatap jam yang terpajang di atas meja nakas. Menunjukkan pukul 4 pagi, dan Chaeyoung memilih untuk beranjak dari atas tempat tidur--menjadikan selimut yang dikenakannya tadi untuk menutupi tubuh telanjangnya. Chaeyoung bahkan tak peduli jika Jungkook akan marah karena mengenakan selimutnya.
Jungkook tak ada di ruang kerjanya, dan membuat Chaeyoung berpikir jika pria itu sudah pergi dan mungkin akan kembali ke rumah ini dalam waktu yang lama. Dan Chaeyoung tak bisa menahan dirinya untuk tak sedih akan hal itu. Entahlah, Chaeyoung pun tak tahu mengapa dirinya merindukan Jungkook akhir-akhir ini. Hanya karena pernah melewati masa yang sulit di usia remaja, Chaeyoung seolah menemukan seseorang yang bisa berbagi cerita dengannya dan memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Dan Chaeyoung ingin terus berada di dekat Jungkook.
Chaeyoung memilih beranjak, pada sebuah kamar lain yang dirinya belum mengetahui isinya. Mungkin di dalam sana adalah perpustakaan kecil, dimana Chaeyoung pun juga sangat senang untuk membaca. Setidaknya menghilangkan bosan sembari menunggu Bibi Kang yang akan datang pukul 8 pagi nanti.
Dan pemikiran Chaeyoung memang benar jika ruangan itu telah terisi dengan beberapa rak yang cukup menjulang dengan buku-buku yang tertata rapi di sana. Dan kebahagiaannya seolah bertambah, melihat sebuah piano yang juga terletak di sana.
Langkahnya mulai mendekat, duduk di atas bangku dan menatap pada piano di hadapannya. Memang sudah lama rasanya ia tak dihadapkan dengan benda kesukaannya ini. Saat SMA dahulu, ruang musik seolah menjadi rumah kedua baginya. Jari-jarinya begitu rindu untuk menekan tuts nada dan bernyanyi sampai melupakan waktu. Hanya sayang saja, ia tak bisa lagi untuk melanjutkan hal yang dia sukai. Chaeyoung memilih untuk mengubur semua mimpinya, dan lebih fokus untuk bekerja dan menghidupi adik serta neneknya.
Chaeyoung perlahan mulai menekan satu tuts, sebelum beralih pada tuts lainnya dan menghasilkan nada yang selalu ia mainkan dahulu. Rasanya begitu bahagia ketika akhirnya bisa kembali bermain piano, dan Chaeyoung begitu terpaku dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini.
"Kukira suaranya akan sumbang karena sudah lama tak pernah dimainkan."
Suara itu tentu saja membuatnya terkejut. Chaeyoung bahkan tak tahu sejak kapan Jungkook berada di sana dan melihat semua yang dilakukannya.
"T-Tuan, maafkan aku." Ucapnya dengan panik dan beranjak dari duduknya, takut jika Jungkook akan marah karena sudah lancang masuk ke ruang pribadinya dan bahkan menyentuh barangnya.
Jungkook kini mendekat, mengambil selimut yang sempat jatuh dan memakaikannya kembali pada Chaeyoung. Dan hal itu membuat Chaeyoung tersadar pula jika dirinya memang masih dalam keadaan telanjang di hadapan Jungkook. Sementara Jungkook hanya bisa menahan sebuah senyum yang ingin ia tarik saat ini, melihat Chaeyoung yang berusaha untuk menutupi tubuhnya sendiri dengan rona merah yang tengah menghiasi wajahnya saat ini.
"Tak apa. Lagipula, kau memainkannya dengan baik tadi. Membuatku ragu untuk menghentikanmu yang terlarut dengan permainan pianomu sendiri."
Pandangan Chaeyoung kini merunduk, "maafkan aku sekali lagi, Tuan." Ucapnya kembali.
Namun Jungkook memilih untuk tak menjawabnya, kali ini duduk pada bangku yang Chaeyoung duduki sebelumnya. "Duduklah." Ucapnya setelahnya. Dan ucapan itu tentu saja tertuju pada Chaeyoung, memilih untuk menuruti Jungkook dan kembali duduk di posisinya semula.
Chaeyoung sedikit dibuat terkejut ketika Jungkook kini mulai memainkan piano di hadapan mereka. Melirik sekilas pada pria itu yang masih fokus, lalu kembali pada jari-jemarinya yang beralih dari tuts ke tuts lainnya.
Tak ada kata apapun yang Chaeyoung keluarkan, hingga permainan Jungkook usai setelahnya. Kedua pandangan mereka bertemu, sementara Jungkook kini sedikit merunduk untuk bisa mengecup Chaeyoung di bibirnya. Tentu hal itu sedikit membuat Chaeyoung terkejut, bahkan tak menolak pula ketika Jungkook beralih untuk mengecup pundaknya setelah sedikit menyampirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
"Itu tadi permainan yang bagus, Tuan." Ucap Chaeyoung, memilih untuk mengalihkan pembicaraan karena apa yang dilakukan Jungkook tadi padanya sedikit membuatnya berdebar.
Jungkook menarik senyum kali ini. "Terima kasih. Lagipula, sudah lama aku tak datang kemari dan bermain piano."
"Jadi, ruangan ini tak pernah kau datangi dalam waktu yang lama?"
Jungkook tak menjawab langsung saat itu, sementara pandangannya mulai mengelilingi ruangan yang memang sudah lama tak ia kunjungi. "Ya, sudah lama sekali."
"Tapi, kenapa?" Chaeyoung tak bisa menahan rasa penasarannya. Dan melihat Jungkook yang seolah tak masalah dengan semua rasa penasarannya itu sedikit membuat Chaeyoung bahagia. Mengetahui jika Jungkook kini perlahan mulai bisa untuk terbuka dan bercerita banyak padanya.
"Karena aku membuat ruangan ini untuk seseorang. Mengisinya dengan seluruh hal yang dia sukai."
"Seseorang?"
Chaeyoung bisa melihat bagaimana perubahan wajah dari Jungkook. Apalagi dengan pandangan pria itu yang kini merunduk, menekan satu tuts piano.
"Kami begitu dekat dan saling mencintai. Sebelum akhirnya kepercayaanku dipatahkan begitu saja ketika tahu dirinya memilih untuk bersama dengan pria lain dan pergi begitu saja dariku."
Chaeyoung tak perlu mendengar banyak kalimat untuk bisa mengerti tentang ucapan Jungkook tadi.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tak bermaksud untuk membuatmu mengingat tentang seseorang itu."
Jungkook hanya menggeleng. "Tak apa. Lagipula, itu semua sudah lama sekali. Aku masih terlalu muda dan membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaranku, dan membuatku begitu mudah untuk percaya padanya."
"Jadi, apa kau masih mencintainya?" Tanya Chaeyoung, walaupun dirinya begitu ragu di awal untuk menanyakannya.
"Entahlah. Tapi dia adalah alasan kuat mengapa aku memilih untuk melakukan hal ini. Melihatnya begitu bahagia dengan keluarga barunya dan putri mereka membuatku begitu marah. Sementara aku di sini begitu terpuruk karena kepergiannya. Dan ingin menunjukkan padanya bahwa aku pun bisa hidup bahagia tanpanya, tentu dengan anak kandungku sendiri."
Sentuhan pada satu tangannya membuat Jungkook beralih pada Chaeyoung, bahkan tak menolak ketika wanita itu kini menggenggam satu tangannya.
"Terima kasih, Tuan. Karena sudah mau untuk berbicara banyak dan percaya padaku." Ucap Chaeyoung. Dan ucapan itu tentu membuat Jungkook menyadari apa yang baru saja dirinya lakukan.
"Aku tak tahu sudah sebanyak apa rasa sakit yang kau lalui selama ini sehingga membuatmu menjadi seperti ini. Dan mungkin, tak mudah bagimu untuk kembali terbuka dan percaya pada seseorang hingga saat ini. Tapi aku ingin berusaha untuk menjadi seseorang yang kau percayai selama aku tinggal di sini, Tuan."
Bohong jika ucapan itu tak membuat hati Jungkook yang sudah lama tak tersentuh akan ucapan tulus dari Chaeyoung. Dirinya bahkan tak mempercayai apa yang sudah ia lakukan. Seolah melupakan seluruh rasa sakitnya dahulu ketika akhirnya menaruh sebuah rasa percaya pada seseorang. Namun Ahn Chaeyoung seperti berbeda dari keseluruhan orang-orang yang pernah ia temui. Tak ada satupun ucapan dan tindakan wanita itu yang terasa palsu bagi Jungkook. Dan secara tak sadar, Jungkook pun akhirnya terlarut dengan suasana nyaman yang tercipta di antara mereka.
Walaupun terlihat ragu, Chaeyoung tetap mendekat saat itu. Dan melihat kedua mata Jungkook yang perlahan mulai tertutup membuat Chaeyoung semakin memberanikan dirinya untuk mempertemukan bibi keduanya dalam sebuah kecupan. Bukan sebuah ciuman yang menggebu seperti yang selalu mereka lakukan sebelumnya. Melainkan kecupan manis nan tulus, yang perlahan mulai membuat ikatan lain yang tercipta begitu saja tanpa bisa mereka hentikan.
--To Be Continued--
Ayokkk jejaknya yang banyak yaaaa. Mau lihat chapter selanjutnya juga tergantung sama kalian semua loh 😁😁
KAMU SEDANG MEMBACA
All With You
Fanfiction[18+] ✔ Yang Ahn Chaeyoung inginkan adalah terus bersama dengan Ha Jungkook. Walaupun ia tahu, dirinya mungkin bukanlah yang pria itu inginkan. ----- ©A BTS's Jungkook & BLACKPINK's Rosé Fanfiction ©iamdhilaaa, 2021
